Saturday, 30 May 2015

Catatan Kecil Tentang SOOCA #3 – catatan terakhirku tentang SOOCA





 SOOCA (Student Objective Oral Case Analysis) merupakan ujian lisan yang selalu menjadi “sesuatu” bagi seluruh mahasiswa FK Unpad setiap semesternya. Kecuali saat semester 1, ujian SOOCA juga ada di UTS. Ujian SOOCA semester ini adalah ujian SOOCA ke-5 yang telah aku lewati selama aku kuliah disini. System yang diujikan pada SOOCA di semester ini adalah Dermato-musculoskeletal System (DMS) dan Hemato-immunology System (HIS).

Ada 7  kasus yang dipelajati dan diujikan untuk SOOCA pada system DMS:

Tuesday, 28 April 2015

PertolonganMu, Yaa Allah..


PertolonganMu, Yaa Allah.. datang tanpa terduga.
Datang tanpa ada satu orang pun yang menyangka.

                Jarum jam arlojiku telah menunjukkan pukul 15.45 WIB. Belum ada satu batang hidung pun yang terlihat.’Gimana ini? mau briefing jam berapa ini? astaghfirullah.. tenang, La. Tenang.’ Tidak sampai 2 menit kemudian, Alhamdulillah mulai datang satu-dua panitia. Lampu ruangan masih padam. Kursi belum tertata sebagaimana mestinya. Perlengkapan logistic (microphone, projector dan laptop) masih belum ada. Sembari membereskan kursi-kursi, baru saja aku hendak mencari kontak temanku yang bertugas sebagai logistic hari ini, terlihat 4 orang yang sudah sangat aku kenal sebagai peserta acara skomen sore ini. ‘Astaghfirullah..gimana ini? pesertanya udah datang tapi belum ada persiapan apa-apa. Yaa Allah…’ dalam hati aku semakin cemas. Salah seorang temanku yang bertugas sebagai assessment mengambil dua buah kursi untuk absensi peserta ikhwan dan akhwat.
                Kira-kira sudah ada 6 atau 8 orang peserta telah hadir di dalam ruangan. Perlengkapan logistic masih belum terambil. Aku semakin cemas, kemana seorang temanku itu? Lalu pesan yang aku kirim akhirnya terbalas, ternyata temanku yang bertugas sebagai logistic tadi alerginya kambuh, jadi dia tidak dapat hadir. Aku mulai memutar otak. Mencari nama-nama dalam kepalaku yang mungkin bisa menggantikan tugasnya. Kemudian aku melihat seorang temanku yang lain, dia juga sedang mencari panitia logistic. Aku katakan padanya bahwa teman kami yang bertugas sebagai logistic tidak dapat hadir. akhirnya dialah yang mengambil semua perlengkapan logistic tersebut. Microphone ada, projector ada, laptop ada.
                Aku kembali melirik arlojiku, pukul 16.00. acara seharusnya sudah dimulai. Aku menghubungi temanku yang bertugas sebagai MC. Dia sedang di berjalan dari masjid kampus ke lokasi acara. Aku sedikit lega. Lalu.. Danlap? 'Apakah danlap sudah debriefing oleh pihak SC?' tanyaku dalam hati. Aku bertanya lagi pada seorang temanku mengenai danlap, lalu temanku tadi menghampiri temanku yang bertugas sebagai danlap.
                Pukul 16.05, MC datang. Aku langsung memintanya memulai. Lalu dia bilang, “La, rundown mana?”. Aku tercengang ‘Astaghfirullah…’ aku pinjamkan handphoneku padanya untuk melihat rundown acara disana. Akhirnya, pukul 16.10 acara baru dimulai. Laahawla wa laaquwwata illaabillaah..
                Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..
Temanku sangat baik memimpin acara. Dia pandai membawa diri dihadapan para peserta dan membuat suasana terkesan menyenangkan dan tidak kaku. Rangkaian demi rangkaian acara berlalu dengan lancar. Sesi danlap pun berlangsung dengan sangat baik. Alhamdulillah, ternyata temanku yang bertugas sebagai danlap telah memiliki konsep yang akan dibawa. Sesi materi, MasyaAllah… Alhamdulillah.. Pemateri hari ini sangat luar biasa. Materi Maratibul ‘Amal yang dibawanya disisipkan oleh kisah-kisah terpilih yang sangat menarik perhatian para peserta. Aku tidak mampu berkata-kata. Aku tidak mampu mengungkapkan bagaimana rasa syukurku saat ini. Bagaimana kecemasan yang aku rasakan tadi, aku sangat khawatir acara sore ini tidak akan berjalan dengan lancar karena tidak siapnya persiapan awal tadi.
                Saat ini, aku sedang duduk di bangku belakang, menulis ini. Aku tidak tahu lagi bagaimana nasib acara yang hari ini menjadi tanggungjawabku ini jika tanpa pertolongan dari Allah.
Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..
PertolonganMu, Yaa Allah.. selalu hadir selayaknya kelopak mata yang mengedip disaat ia harus mengedip.
Alhamdulillahirabbil’alaamiin..


Jatinangor, 28 April 2015. 17.40 WIB  

Gedung C2 lantai 3 FK Unpad Jatinangor.

Tuesday, 14 April 2015

Salah

Aku rasa aku telah salah memutuskan untuk bicara padanya

Aku rasa aku telah salah memutuskan untuk mencoba bercerita padanya

Aku rasa aku telah salah memutuskan untuk benar-benar bercerita padanya

Aku rasa aku telah salah untuk mempercayainya

Ini adalah salah satu kelemahanku yang paling aku sesali hingga kini. Inilah kebodohanku yang paling aku sesali hingga kini. Inilah kesalahan fatal yang pernah aku lakukan (menurutku). Mungkin aku memang terkesan tertutup, tapi tidak begitu terhadap orang yang aku percayai. Ya, pada orang yang aku percayai.

Aku belum pernah semenyesal ini selama hidupku. Aku belum pernah merasa sebodoh ini. Aku belum pernah merasa sekecewa ini pada diriku sendiri. Bahkan ketika nilai fisika dan matematika menjadi penghancur utama nilai rata-rata UNku. Atau ketika semua fasilitasku disita oleh Mamah dan Ayah selama 6 bulan karena nilai raporku anjlok. Aku belum pernah sekesal ini pada diriku sendiri.

Aku tahu ini salahku. Sepenuhnya salahku. Salahku yang tidak memfilter. Bukan tidak memfilter, maksudku kurang memfilter karena aku melihat dia sangat baik. Oke, aku akui ini bias terbesar. Dan kini aku menyesali bagaimana aku bisa sepercaya itu padanya dan menceritakan semuanya. Aku sungguh menyesal.

Ketika aku telah mempercayai seseorang, aku sungguh berharap bahwa orang itu mampu dan akan terus menyimpan setiap detail kata yang aku ceritakan padanya. Dan ketika aku bilang semuanya, itu artinya benar-benar semuanya. Tidak peduli apakah jika dia menceritakan pada orang lain dengan menyamarkan namaku, itu artinya dia sudah melanggar janjinya padaku, dan aku sangat tidak suka dengan sikap yang seperti itu. Tidak peduli apakah dia hanya menceritakannya kepada teman baiknya yang lain yang menurutnya pandai menyimpan rahasia, tapi tetap saja dia telah melanggar janjinya padaku. Tidak peduli dengan alasan apaun dia menceritakan semua itu sebagai contoh, aku tetap tidak suka. Ya, aku kesal. Ya, aku marah. Tapi jauh dari itu, aku sedih. Benar-benar sedih. Ketika ada orang yang menceritakan kepada orang lain tentang apa yang telah aku ceritakan kepadanya, terlebih jika itu adalah tentang aku sendiri, aku merasa bahwa orang itu menganggap ceritaku tidak lebih sebagai sebuah lelucon yang pantas jika diceritakan kepada orang-orang. Aku tidak suka. Aku sedih. Aku sangat sedih mengetahuinya. Aku menangis 3 hari. Terlebih lagi aku mengetahui ini dengan mata dan telingaku sendiri.

Ucapan orang tua memang tidak pernah meleset. “Tempat curhat paling aman itu Allah, Nak. Semuanya boleh Mala curhatin ke Allah. Aman. Nggak akan bocor kemana-mana. Nggak ada PHPnya, karena Allah pasti ngasih petunjuk“. Suatu hari, Mamah pernah berkata seperti itu. Dan perkataan Mamah tidak salah sama sekali. Kini aku justru sangat menyesal telah menceritakan hal itu selain kepada Allah…

Aku rasa ini salah satu bentuk teguran Allah kepadaku untuk terus mengingat-Nya. Untuk terus menomorsatukan-Nya. Untuk terus menggantungkan semua hanya pada-Nya. Untuk selalu menyebut nama-Nya. bagaimanapun keadaanku, entahlah itu senang, sedih, stress, Allah ingin agar hanya Allah lah yang ada dalam hati dan pikiranku. Agar aku hanya meminta solusi pada-Nya, bukan pada orang lain.

Aku rasa benar, Allah telah menegurku…

Padahal aku punya Allah, tapi mengapa aku ceritakan juga pada yang lain?

Padahal aku punya Allah, tapi mengapa aku justru menangis dihadapan makhluknya?

Padahal aku punya Allah.. aku punya Allah…

Astaghfirullah..

Astaghfirullah…

Astaghfirullah… :’(




Tuesday, 7 April 2015

Yaa Allah.. Sembuhkanlah Dia

          Dia terlihat biasa saja. Tetap bersekolah layaknya anak sekolah seusianya. Masih terlihat baik-baik saja seperti 4 tahun lalu ketika aku berpamitan. Dia terlihat kuat. Tetap membanggakan orang tua dengan prestasinya di sekolah. Dia masih terlihat sama. Aku berusaha menerka apakah dia masih usil pada kami sepupu-sepupunya seperti dulu. Terutama padaku karena aku lah yang dia kenal lebih lama-aku cucu pertama di keluarga ayah, dia kedua. Kami terpaut usia 4 tahun. 6 tahun setelahnya, barulah lahir cucu ketiga di keluarga ayah-. Seperti potongan film yang diputar ulang, ingatanku kembali ke masa kanak-kanak kami. Saat itu, tahun 2006, kami sekeluarga sudah pindah ke Aceh. Dan saat itu, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan sepupuku ini. Ekspektasiku sebagai seorang anak usia 10 tahun ketika pertama kali bertemu dengan sepupunya yang baru berusia 6 tahun saat itu, sangat tipikal. Aku kira dia adalah anak yang baik, pendiam, penurut dan tidak banyak tingkah. Nyatanya? Dia seperti tidak pernah kehabisan ide untuk mengusiliku. Tidak hanya aku, sepupu-sepupu kami yang lain (cucu dari adik-adik kakek kami), bahkan Mamaku, Tante dan Om juga pernah menjadi korbannya. Ya, begitulah dia. Sepupuku yang paling usil.
          Dia hanya terhilat lebih tinggi sekarang. Tingginya hampir setara denganku. Wajahnya tidak banyak berubah. Masih terlihat usil seperti dulu. Kali ini aku tidak lama bertemu dengannya, karena dia dan ayahnya harus segera kembali ke Jakarta untuk beberapa hari, dan setelah itu langsung pulang ke Aceh. Waktunya hanya sedikit untuk jalan-jalan di Bandung. Sayang sekali aku sedang tidak libur kuliah, jadi aku hanya sempat bertemu dengannya selama beberapa menit-mereka mampir ke Jatinangor dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta-. Tadi aku bilang mampir, maksudnya benar-benar mampir. Tidak sampai 10 menit mereka disini, lalu pergi lagi. Ayahku juga ikut. Tipikal orang-orang yang tidak suka menyia-nyiakan waktu.
          Beberapa hari kemudian, aku mendapat telpon dari Ayah. Disini Ayah menceritakan semuanya. Keadaan sepupuku itu yang sebenarnya. Aku terkejut. Aku benar-benar terkejut. Aku tahu dulu dia pernah sakit. Tapi aku kira sakitnya itu sudah sembuh karena dia sudah menjalani pengobatan hingga dioperasi di Malaysia, dan setelah itu dia tidak mengalami keluhan apapun sama sekali. Kali ini aku benar-benar terkejut mendengar cerita Ayah. Aku menangis tanpa suara di telepon. “Mala kalau chating atau sms dia jangan dibawa sedih ya, Nak. Biasa aja, anggap aja kayak kalau dia itu nggak sakit. Dia nggak suka, Nak. Waktu dia sama wak Zul masih nginap di rumah, wak Zul cerita sama Ayah. Dia nggak pernah mau ngomong kalo di telepon ditanya-tanya tentang sakitnya dia. Dia memang keliatan nggak sakit, Nak. Kayak pas kami ke mampir ke tempat Mala pun dia nggak keliatan sakit kan, Nak?“. Aku terdiam. Lumayan lama. “Iya, Yah..“ Hanya itu kalimat yang mampu aku keluarkan.

Yaa Allah... sembuhkanlah dia...

sebelum semua terlambat (repost)

sebelum semua terlambat, izinkan diri ini untuk terus melaksanakan perintahMu, mengingatMu setiap waktu

sebelum semua terlambat, izinkan lisan ini untuk selalu mengucapkan namaMu

sebelum semua terlambat, izinkan hati ini untuk selalu mengagungkan namaMu

sebelum semua terlambat, izinkan akal ini untuk memilah mana yang yang baik dan mana yang buruk

sebelum semua terlambat, izinkan air mata ini mengalir…mengiringi tangis penyesalan atas semua dosa yang telah lalu

sebelum semua terlambat, izinkan tangan ini, jemari ini, untuk terus melakukan hal yang bisa memberi manfaat untuk orang lain

sebelum semua terlambat, izinkan kaki ini untuk terus melangkah menuju tempat yang Engkau ridhai

sebelum semua terlambat, izinkan mata ini tetap melihat semua tanda kebesaranMu

sebelum semua terlambat, izinkan telinga ini untuk tetap mendengar lantunan ayat-ayatMu

sebelum semua terlambat, Yaa Rabbii..

jangan biarkan tangan ini melakukan hal yang Engkau murkai

jangan biarkan kaki ini melangkah ke arah yang justru akan membawaku menjauhiMu

jangan biarkan lisan ini mengucapkan hal-hal yang Engkau benci

jangan biarkan hati ini lalai, jangan bekukan hati ini

jangan biarkan air mata ini tumpah dalam kesia-siaan

jangan biarkan mata ini hanya melihat nikmat dunia yang bukan apa-apa

jangan biarkan telinga ini mendengarkan hal-hal yang percuma

jangan biarkan diri ini seorang diri, Yaa Allah..

sungguh, tiada sesuatu yang terjadi diluar kuasaMu

bahkan tiada satu helai daun yang jatuh tanpa sepengetahuanMu..

ampuni aku yang lalai ini, Yaa Allah yang Maha pengampun

lindungi diri yang lemah ini dalam naunganMu, Yaa Rahim..



Jatinagor, Rabu 18 Februari 2015
1:25 a.m

Jadilah Dirimu Sendiri

                Ini adalah salah satu tema favoritku. Sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu, aku pernah membaca sebuah teenlit yang menceritakan kisah dua anak perempuan yang memiliki nama yang mirip, hanya terpaut huruf 'h’. Nama yang mirip, namu kepribadian yang sangat bertolak belakang. Saat itu aku langsung membayangkan mereka berdua memiliki kepribadian masing-masing melankolis-plegmatis dan sanguinis-koleris. Ya, setidaknya itulah yang dapat aku simpulkan tentang watak mereka di dalam teenlit tersebut. Ada sebuah kalimat di teenlit itu yang sampai sekarang masih aku ingat, “Kamu, ya kamu. Dia, ya dia. Kamu nggak bisa disamakan dengan dia. Begitupun dia, nggak bisa disamakan dengan kamu. Kamu yang seperti ini, kamu yang ceria, kamu yang lucu, kamu yang cerewet, kamu yang peduli, ini adalah kamu. Kamu yang unik. Inilah yang membuat kamu yang selama ini aku kenal sebagai kamu’’.
                Jujur saja, aku sedikit tertegun ketika membacanya. Kemudian aku berpikir, bagaimana orang lain melihatku sebagai aku? Aku tidak berani menerka-nerka. Saat itu aku belum memahami apa yang dimaksud dengan menjadi diri sendiri. Apakah maksudnya adalah melakukan sesuatu yang disenangi orang lain dengan masih bersikap sebagai diri sendiri? Ataukah melakukan hal yang bisa membuat orang menyenangi kita dan pada akhirnya kita punya banyak teman? Bahkan hingga detik ini, aku masih belum mendapatkan jawaban yang pasti mengenai hal ini.
                Sempat aku mencoba untuk mendiskusikan hal ini dengan seorang temanku, tapi kelihatannya dia pun sama kebingungannya juga denganku. Akhirnya aku mencoba untuk menyimpan saja pertanyaan ini, siapa tahu aku akan menemukan jawabannya suatu hari nanti.
                Setelah sekian lama pertanyaan itu terkubur dalam memoriku, beberapa waktu lalu aku mendapatkan sebuah pernyataan yang menyinggungnya dan pertanyaan itu muncul kembali. Seorang temanku meminta pendapatku mengenai sikap apa yang harus dia ambil. Dia mendapat nasehat dari seorang temannya yang lain untuk melakukan apa yang orang lain suka agar dia tidak mendapat masalah dan dia juga bisa mendapat banyak teman karenanya. Dia juga mendapat nasehat dari temannya itu untuk tidak melawan, lakukan saja apa yang orang lain suka, dengan begitu tidak akan ada lagi yang kan membicarakannya di belakang karena dia tidak melakukan hal yang ‘berbeda’ lagi.
                Curhatan temanku yang satu ini, jujur saja, membuatku tertegun. Aku sempat bertanya-tanya kira-kira siapa temannya yang menyarankan ini? Tapi aku urung menanyakannya karena aku pikir tidak penting dan bukan urusanku untuk mengetahui siapa orangnya. Yang menarik perhatianku adalah sarannya ini. Persis seperti pertanyaanku 7 atau 8 tahun yang lalu. Perlukah kita melakukan semua itu hanya agar disukai banyak orang atau setidaknya agar terhindar dari gunjingan orang? Aku masih meragukannya. Oke, aku mulai memikirkan nama-nama orang yang mungkin bisa aku ajak berdiskusi mengenai hal ini.
                Sebenarnya, hal ini sangat sering terjadi. Bahkan setiap hari. Setiap pagi, ketikan kaan berangkat ke kampus, kamu membuka lemarimu, melihat-lihat baju  mana yang akan kamu kenakan hari ini. Kemeja yang mana, kerudung yang mana, polos atau bermotif, rok yang mana, bros mana yang kamu rasa match dengan kerudung dan bajumu, kaos kaki, sepatu yang mana, tas bahu atau tas punggung. Semua itu, semua keputusan itu, atas dasar apa? Apakah karena kamu memang menyukai style itu? Atau karena kamu ingin dilihat rapi dan match?
                Sama halnya jika kamu belajar. Kamu belajar karena perintah Allah untuk menuntut ilmu? Kamu belajar karena kamu memang ingin tahu? Kamu belajar karena kamu mersa ilmu yang kamu punya masih sangat sedikit, krenanya kamu butuh belajar? Atau kamu belajar karena ingin terlihat rajin? Jawabannya ada pada dirimu sendiri.
               Aku memang belum menemukan jawaban pastinya, aku juga belum sepenuhnya memahami. Selama ini, aku bahkan tidak yakin apakan kau telah sepenuhnya menjadi diriku sendiri atau belum. Sebagai penutup, aku ingin mencantumkan sebuah quote yang entah bagaimana bisa ada di kepalaku saat ini. “Kamu tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk mendapatkan perhatian dari segelintir orang yang awalnya kamu kira mereka akan menjadi temanmu untuk selamanya. Jadilah dirimu sendiri. Lakukankah apa yang membuatmu merasa nyaman. Lakukankah apa yang membuatmu akan terlihat seperti ‘kamu‘ apa adanya. Lakukanlah apa yang mencerminkan dirimu. Tanpa dibuat-buat.“

Monday, 6 April 2015

Belum Ada Hal Berarti

Belum ada hal berarti yang pernah aku lakukan selama ini.
Belum ada hal berarti yang aku lakukan untuk diriku sendiri, sanak sadaraku, orang-orang di sekitarku. 
Belum ada hal berarti yang aku lakukan untuk membahagiakan orang lain. 
Belum ada hal berarti yang aku lakukan untuk meringankan beban orang lain. 
Belum ada hal berarti yang aku lakukan untuk membawa diri ini ke arah yang lebih baik. 
Belum ada hal berarti yang aku lakukan untuk merubah arah kurva bibir mereka yang sedang bersedih. 
Belum ada hal berarti yang aku lakukan untuk menyingkirkan tetesan air mata yang mengalir di pipi mereka yang terluka. 
Belum ada hal berarti yang aku lakukan untuk mereka.
Belum ada hal berarti yang aku lakukan.
Adakah kesempatan untukku?
Adakah waktu tersisa untukku?
Kata mereka, "Gajah mati meninggalkan gadingnya. Harimau mati meninggalkan lorengnya. Manusia mati meninggalkan namanya. Karena manusia kelak akan dikenang sebagai siapa dan apa yang dia lakukan untuk orang lain."
Benarkah? 
Lalu bagaimana dengan aku yang belum pernah melakukan hal berarti ini?
Bagaimana dengan aku yang bahkan aku pun tidak tahu berapa lama lagi waktu yang aku punya.
Kini aku mengerti apa maksud dari kalimat ini, "Ya Allah, izinkan aku hidup sedikit lebih lama. Masih sangat banyak yang ingin aku lakukan di dunia ini.. Aku ingin bisa lebih lama membahagiakan mereka.."
Kini aku benar-benar mengerti.
Segalanya bukan tentang apa saja yang telah kamu dapatkan, tapi tentang apa yang telah kamu beri.
Memberi, memberi, dan memberi.
Izinkan aku, Allah..
Izinkan aku, untuk memberi lebih banyak..

Friday, 3 April 2015

bukan tentang bagaimana mereka melihatmu, tapi bagaimana Allah melihatmu

Karena tidak akan pernah menjadi masalah bagaimana manusia lain memandangmu. Tidak masalah bagaimana manusia lain menganggapmu buruk, baik dari segi sikap ataupun fisik. Tidak masalah bagaimana manusia lain yang bahkan tidak mengetahui apa-apa tentang dirimu menilaimu buruk dan membicarakan keslahan yang pernah kamu lakukan. Tidak masalah bagaimanaun kamu dimata manusia lain. Yang jadi masalah adalah, bagaimana kamu di mata Allah. Bagaimana Allah menilai amal ibadah yang kamu lakukan. Bagaimana kamu mengerjakan perintah-Nya. Bagaimana kamu menjalankan kewajibanmu tanpa menuntut banyak dari-Nya. Bagaimana kamu fokuskan hatimu hanya pada-Nya. Bagaimana kamu mengagungkan-Nya diatas segalanya.Ya, hanya Allah yang berhak menilai. Hanya Allah yang mempunyai standarnya. Hanya Allah yang berhak menentukan apakah seorang manusia itu tergolong dalam golongan orang baik ataukah sebaliknya. Hanya Allah. Bisa saja seorang manusia terlihat baik, itu karena Allah lah yang telah menyembunyikan aibnya. Bisa saja manusia itu terlihat buruk, itu karena Allah ingin menegurnya melaui orang disekitarnya agar dia merubah kelakuan buruknya. Tidak hanya itu, masih ada ratusan bahkan ribuan probabilitas lain yang mungkin Allah lakukan. Karena Allah Maha segalanya.


sekali lagi, bukan masalah bagaimana manusia lain yang bahkan tidak mengetahui apapun tentangmu menilai baik buruknya kamu yang perlu kamu khawatirkan. Tapi bagaimana Allah melihatmu. Sebagai seorang hamba yang bertaqwa kah? atau sebaliknya?

Jatinangor, 3 April 2015 11.48 p.m

Saturday, 7 March 2015

Selamat datang, keluarga baruku. Selamat datang, keluarga tanpa ikatan darah.

Kita tidak lebih hanya 8 anak manusia yang dipertemukan oleh Allah untuk saling membantu dalam mengemban amanah ini. Kita tidak lebih hanya 8 orang anak yang atas izin Allah akan menjalankan amanah yang tidak mudah ini. Kita tidak lebih hanya 8 anak manusia yang telah Allah beri karunia untuk berjuang di jalan ini dengan cara yang berbeda. Ya, bersama kalian lah akan aku lalui hari-hari yang tidak mudah selama setahun kedepan. Aku tidak pernah tahu apa yang akan aku hadapi esok hari, begitu pun kalian. Kita tidak pernah tahu ujian apa yang akan Allah berikan pada kita. Yang kita tahu, hanyalah melakukan yang terbaik yang kita bisa. Yang kita tahu, hanyalah meniatkan semua yang akan kita lakukan untuk-Nya, Lillahita’ala. Dan yang kita tahu, bahwa Allah selalu melihat proses. Setiap detail dari proses yang kita jalani. Setiap detail dari apa yang kita lakukan. Setiap detail dari apa yang kita niatkan untuk-Nya. Hanya untuk-Nya. Lelah? Sudah pasti akan datang. Penat pun tak akan kehilangan kesempatan untuk menghampiri kita. Tapi yakinlah, atas izin-Nya, tidak ada yang tidak mungkin. Tidak ada yang sia-sia. Karena itu, mari sama-sama kita lalui ini semua. Saling mengingatkan. Saling menguatkan.

Di awal yang indah ini, aku hanya mampu berdo’a agar Allah selalu mengistiqomahkan kita semua. Agar Allah selalu menguatkan bahu kita semua. Sehingga tak masalah seberat apapun beban yang kita pikul, Allah selalu memberi kita kekuatan untuk bertahan.

Di awal yang indah ini, aku hanya mampu menuliskan untaian kalimat yang sangat sederhana ini untuk kalian, keluarga baruku. semoga kita dapat menggapai akhir yang indah pula.

Di halaman pertama buku perjalanan kita ini, aku siratkan do’a dan harapan untuk kita semua. Untuk keinginan kita, untuk kesungguhan kita meraih ridha-Nya. Untuk keseriusan kita berusaha melakukan yang terbaik yang kita bisa lakukan.

Dan disini, aku mengucapkan selamat datang, keluarga kecilku yang baru. Yang akan berjuang di jalan ini bersama-sama denganku.

Keluarga kecil baruku, Mentari.

Aku harap kita bisa menyinari Asy-syifaa‘ seperti mentari yang menyinari bumi..

Seperti cahaya mentari terbit yang menghangatkan dan membangkitkan semangat, dan seperti cahaya mentari terbenam yang begitu tenang dan damai..

Selamat berjuang, keluargaku. Bismillah :)

Sunday, 1 February 2015

Dulu dan Kini

Dulu, kalau tidak disitu, kini dimana aku?

Kini, kalau tidak disini, kelak dimana aku?

Dulu, kalau tidak begitu, kini bagaimana aku?

Kini, kalau tidak begini, kelak bagaimana aku?

Cuma tahu dulu aku seperti itu

Cuma tahu kini aku seperti ini

Tanpa tahu kelak akan seperti apa aku




Entah apa yang menggerakkan tanganku untuk menulis saat ini, padahal aku sadar betul masih sangat banyak materi kuliah yang belum aku baca. Yang aku tahu, saat ini, aku hanya ingin menulis. Tentang apapun. Aku tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini aku banyak memikirkan hal-hal secara random. Saat ini misalnya, entah kenapa aku teringat pada saat aku akan berpisah dengan mereka, dengan tanah rencong itu. Terekam jelas bagaimana mereka mengajakku untuk ikut ke gedung SMP dan disana kita semua makan bakso bersama, kemudian salah seorang dari mereka menginisiasi acaranya. Memintaku untuk menceritakan kepada mereka bagaimana first impressionku terhadap mereka dan apa yang aku rasakan setelah setahun aku berada di kelas yang sama dengan mereka. Dan juga teman-teman sekamarku di asrama. Dan entah bagaimana semua kalimat itu mengalir begitu lancar dari lidahku, dan tentu saja dari hatiku.

Banyak sekali memang. Meskipun hanya setahun, tapi percayalah, sangat banyak yang terjadi. Peristiwa demi peristiwa yang terjadi tidak hanya menggores diingatanku sebagai kenangan, tapi juga sebagai pelajaran.

Saat pertama kali aku menginjakan kakiku di asrama itu, jujur saja aku takut. Aku takut bangun kesiangan karena tidak ada mamah yang biasa membangunkanku. Aku takut tidur dalam ruangan gelap karena aku berani bertaruh teman-teman sekamarku akan mematikan lampu saat akan tidur. Aku takut berjalan sendirian di lorong koridor yang sepi jika ingin ke kamar mandi saat tengah malam. Aku takut tidak bisa mengimbangi mereka. Aku takut jika aku sakit tidak ada mamah yang merawatku. Aku juga takut tidak dapat bersosialisasi dengan baik karena sifat tertutupku yang sangat keterlaluan saat itu. Aku tidak bisa menginisiasi sebuah percakapan. Kalaupun ada percakapan yang aku mulai, mungkin hanya akan bertahan beberapa kalimat, lalu selesai sudah. Oke, aku akui ini berlebihan. Ketakuta yang aku rasakan dulu memang sangat tidak berdasar. Satu-satunya yang bisa aku andalkan untuk menghadapi ketakutanku adalah sebuah kalimat, “innallaha ma’ana”, Allah selalu bersamaku.

Hari-hari pertama aku tinggal di asrama itu, berjalan dengan hmm… lumayan lancar. Aku lumayan bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan baru yang sangat berbeda itu. Asrama yang aku tempati memang bukan asrama mewah dengan AC di setiap kamarnya. Asrama yang simple menurutku, tapi nyaman untuk ditinggali. Ya, setidaknya jarak gedung sekolah dengan gedung asrama tidak jauh. Hanya butuh waktu 5 menit untuk sampai ke sekolah dari asrama dengan berjalan kaki.

Kelas baru. Aku langsung menempati tempat duduk paling depan. Awalnya aku duduk sendirian, kemudian seorang temanku yang aku ketahui bernama Tia duduk disebelahku setelah sebelumnya bertanya apa tempat ini kosong atau tidak. Masa orientasi juga aku lalui dengan lancar, tanpa hambatan. Aku tidak tahu apa yang bisa aku ceritakan dari rangkaian ospek itu disini, aku tidak menemukan apa-apa yang berarti selain baris-berbaris, aksesoris warna-warni, dan masih banyak lagi yang lain, tapi aku tidak mau membahasnya disini.

Kegiatn belajar mengajar yang aku jalani juga berjalan lancar. Dengan jumlah siswa yang hanya 22 orang dalam satu kelas, sangat mempermudah guru untuk mengontrol kami. Awalnya, aku pesimis akan mendapatkan nilai terbaik di kelas ini, karena semua anaknya pintar menurutku. Mereka rajin belajar, dan sisi pesimisku selalu muncul paling kuat saat ulangan harian atau ulangan umum. Bukan apa-apa, aku hanya trauma jika mengingat nilai ulangan kimia pertamaku yang langsung dimasukkan ke dalam rapor bulanan tanpa ada penambahan nilai untuk tugas dan sebagainya. Aku stress melihat nilaiku. Aku menangis karena tidak tahu apa yang harus aku katakan pada mamah dan ayah saat mempelihatkan rapor bulananku. Mulai saat itu, aku tidak mau lengah lagi. Termasuk untuk pelajaran yang tidak aku sukai (read : fisika). Dengan pertolongan Allah, aku berhasil mengatasi semuanya. Nilai ulangan kimia pertamaku itu ternyata tidak begitu berpengaruh untuk nilai di akhir semester. Entah bagaimana, semua guru mengenalku. Aku menduga karena aku masuk ke sekolah itu tanpa harus mengikuti ujian tes tulis.

Hubungan pertemananku dengan teman-teman sekelas yang lain bisa dibilang berjalan biasa-biasa saja. Ya, bukan hidup namanya jika tidak berwarna bukan? Jika bertanya apakah ada konflik? Tentu jawabannya adalah “iya“. Lumayan banyak juga konflik yang terjadi, tapi aku sudah mengubur semua itu dalam-dalam dan tidak mau mengingatnya lagi. Aku memang banyak menghabiskan malam-malamku disana dengan air mata. Sampai tiap bangun tidur, aku mendapati sarung bantalku basah dan mataku sembab dan perih. Beruntung kacamata yang aku pakai menyamarkan mataku yang sembab. Tapi ada saja temanku yang matanya sangat jeli dan menyadari itu semua.

Semua konflik yang pernah terjadi itu, adalah guru yang sangat berharga yang pernah aku miliki. Aku belajar banyak. Tentang pertemanan, ketulusan, kejujuran, keberanian, prinsip, dan cinta. Banyak orang yang mengatakan masa-masa SMA adalah masa-masa paling menyenangkan, aku setuju. Dan aku akan menambahkan, masa-masa SMA adalah masa-masanya belajar. Sangat berbeda ketika SMP. Sangat berbeda.

Jangan mengira aku yang selalu sendiri dan sering menangis malam-malam ini tidak memiliki sahabat. Aku punya bebrapa teman baik yang sering menemaniku. Salah satunya teman sekamarku, selebihnya di kamar dan di kelas lain. Dan seorang sahatku di sekolah yang berbeda.

Setelah dipikir-pikir, mungkin ini yang mendasari banyaknya tulisan-tulisan kelabu yang aku buat dulu. Hampir seluruh isi diaryku isinya tidak jauh beda. Tapi tulisan usang itu sudah lenyap sekarang.

Aku tidak ingin hidupku seperti itu terus. Bahkan saat aku sudah pindah ke tasik sekalipun, aku belum menemukan perubahan yang berarti dari hidupku. Aku masih sering menulis hal-hal kelabu di blog lamaku yang juga sudah aku tutup. Aku masih sering menulis hal-hal yang menyedihkan. Aku tidak ingin itu terjadi lagi. Tidak ingin itu terulang lagi. Masa lalu yang penuh kelabu itu, biarlah aku kubur dalam-dalam. Aku tidak ingin mengingatnya lagi.

Allah memang maha penyayang, Allah memperlihatkan semuanya padaku dari segala sisi. Allah yang maha membolak-balikkan hati, telah mengubah semuanya. Hidupku, warna-warna yang aku lihat, suara-suara yang aku dengar, sudut pandangku, tak lagi seperti dulu. Ya, ketika aku mulai masuk kuliah, mungkin? Entah lah, aku juga tidak menyadari pastinya kapan. Tapi memang belum lama ini.

Mungkin ini kutipan yang sangat cocok untukku sekarang..

Dulu, kalau tidak disitu, kini dimana aku?

Kini, kalau tidak disini, kelak dimana aku?

Dulu, kalau tidak begitu, kini bagaimana aku?

Kini, kalau tidak begini, kelak bagaimana aku?

Cuma tahu dulu aku seperti itu

Cuma tahu kini aku seperti ini

Tanpa tahu kelak akan seperti apa aku

Sunday, 11 January 2015

Sahabat dan Jingga

kapan jingga menjadi begitu indah?
mengapa pesona ungu seakan terganti?
mengapa dominasi berubah total?
haruskah elegi terbaca semua orang?
nyatanya, itu kegalauan..
nyatanya, itu ketidakpastian..
tapi mengapa burung tak kabarkan lagi kebahagiaan?
mengapa bulan tak lagi tersenyum pancarkan cahayanya?
rindu..
jangan pernah berubah
cukup seperti dulu, selamanya.

***

puisi singkat ini adalah puisi yang dikarang oleh seorang sahabatku yang tinggal di seberang pulau sana :’) (tapi aku telah melakukan perubahan di beberapa bagian baitnya :3 :D )

sahabat yang jauh disana, berapa lama kita tidak bertatap muka secara langsung?
berapa lama kita tidak belajar bersama?
berapa lama aku tidak menceritakan banyak hal padamu secara langsung?
berapa lama aku tidak mendengarkan setiap kata dari cerita2mu secara langsung?
berapa lama kita tidak duduk di teras rumahku sambil menyantap mangga yang masih muda dan asam kesukaanmu?
berapa lama kita tidak menangis dan tertawa bersama?
berapa lama aku tidak mendengar kalimat yang pasti kau ucapkan ketika aku menangis dihadapanmu karena hal itu, “udah, La. lupain, nggak ada gunanya” ? :’)

ya, sudah hampir 4 tahun kami tidak bertatap muka secara langsung..
dan hingga detik ini, aku masih mengingat setiap detail yang terjadi di hari pertemuan terakhir kami, di pagi yang cerah, tapi tak cukup cerah untuk menyembunyikan kesedihan yang sama-sama kami rasakan hari itu.. *kalimat yg ini lebay banget ya -_-v *terbawa suasana ._.v
serta sebagian besar yang terjadi di hari pertama kami bertemu (sekitar pertengahan bulan juli tahun 2006).

saat ini aku sedang duduk didepan laptopku dan ditemani oleh 2 lembar surat dari sahabatku dan sepasang manset pendek yang dia berikan untukku di hari terakhir pertemuan kami :’)

dan aku tidak mengerti kenapa, tapi setiap kali aku membaca ulang surat darinya, aku pasti menangis. (dan itulah salah satu alasannya kenapa aku tidak mau membacanya saat ini).

ketika kau telah memiliki seorang yang kau anggap sahabat dan dia juga menganggapmu sahabat sejatinya, kau akan merasa ada sebuah ikatan yang lebih dari sekedar ikatan saudara diantara kalian..
ketika tiba-tiba kau merasa gelisah, dan ketika itu juga kau menghubungi sahabatmu, lalu kau tahu, ternyata benar, ada sesuatu yang terjadi..
yaa kira-kira seperti itu ikatan yang aku maksud.
atau terkadang, ketika kau berbicara dengannya via telepon (karena jarak yang tidak memungkinkan kalian untuk bertemu secara langsung), kau bisa langsung menduga ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.. dan ternyata memang dugaanmu benar.

aku tidak tahu bagaimana aku bisa menulis ini..
ya, inspirasi memang datang begitu saja..
bahkan dari sepasang manset sekalipun :)

Saturday, 10 January 2015

Pertanyaan apa yang paling sering kamu ajukan kepada dirimu?




Belum lama ini aku mendapat pertanyaan di akun ask.fm ku, pertanyaannya seperti ini, "Pertanyaan apa yang paling sering kamu ajukan kepada dirimu?"

dan jawabanku...
apa saja yang kamu lakukan hari ini?
seberapa banyak kau mengingat Allah hari ini?
dosa apa yang kau perbuat hari ini?
bagaimana sholat wajibmu? sudah sempurna kah?
bagaimana tilawahmu? tamat 1 juz kah hari ini?
bagaimana sholat malammu? masih terjaga kah ia?
bagaimana dzikirmu? masihkah ia menemanimu disaat-saat kosongmu? masihkah ia mengiringi tidurmu? masihkah ia selalu terucap di hatimu?
dan bagaimana jika kau dipanggil hari ini?
apakah kau sudah siap?
apakah kau yakin bekalmu cukup untuk menemui-Nya? :’)

Matahari Jingga









Angin yang berhembus memainkan ujung kerudung biru yang dikenakannya. Disinilah ia saat ini, di tepi pantai yang sangat dirindukannya. Sejenak ingatannya melayang ke beberapa tahun silam, saat segalanya bagai cerita di negeri dongeng.

Tidak bisa dipungkiri maksud hatinya. Tidak bisa disangkal lagi apa yang dirasakannya. Semua bagai mimpi. Ya, segalanya muncul dan hilang tak terduga. Segalanya seperti sihir. Seperti dikendalikan entah oleh siapa dan dengan menggunakan apa.

Apa yang kau lakukan di sini? tidak bisakah kau bergerak mengejar apa itu yang menjadi mimpimu? Bukan. Bukan ia yang tidak ingin bergerak. Bukan ia yang tidak mampu bergerak. Bukan juga ia yang inginkan ini semua.

Sang surya telah menampakkan warna jingga yang temaram dihadapannya. Ia masih tidak bergeming. sudah berapa lama dia duduk di atas batu karang itu? Yang ia ingat, sejak tadi dia ditemani oleh sinar mentari yang cerah, langit biru dan awan putih yang indah, burung-burung beterbangan dengan anggun, dan desiran ombak yang seolah mengerti kesunyian hati yang coba ia tutupi.

Ia memang menunggu senja. Melihat warna jingga yang dipancarkan sang surya dengan anggunnya. Dalam diamnya dia berpikir. Dalam diamnya ia mengenang. Dalam diamnya ia menangis...

Tidak ada yang bisa melihatnya menangis disini. Tidak ada. Mentari jingga yang menemaninya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Mentari jingga itu hanya bertahan sementara, sebelum akhirnya warna jingga berubah biru gelap dan akhirnya hitam. Sebelum akhirnya kehadiran sang surya digantikan oleh purnama, langkah kaki itu telah bergerak menjauh. Meninggalkan segalanya dibelakang. Membiarkan deburan ombak menghapus segalanya. Dan berharap semoga masih ada waktu untuknya bertemu lagi dengan sang surya jingga..

Saturday, 3 January 2015




Bismillaahirrahmaanirrahiim


"pernah ada masa-masa dalam cinta kita

kita lekat bagai api dan kayu

bersama menyala, saling menghangatkan rasanya

hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa

tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu


pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini

kita terlalu akrab bagai awan dan hujan

merasa menghias langit, menyuburkan bumi,

dan melukis pelangi

namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai


di satu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari

mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman

bahkan saling nasehatpun tak lain bagai dua lilin

saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api


Kini saatnya kembali pada iman yang menerangi hati

Pada amal shalih yang menjulang bercabang-cabang

Pada akhlak yang manis ,lembut dan wangi

Hingga ukhuwah kita menggabungkan huruf-huruf menjadi kata

Yang dengannya kebenaran terbaca dan bercahaya..”


— Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah

Friday, 2 January 2015

Catatan Kecil Tentang SOOCA #2

                Senin, 29 Desember 2014.
Ini adalah SOOCA keempat yang aku jalani selama aku belajar di FK Unpad. Di semester ketiga ini, aku mempelajari EMS (Endocrine and Metabolism System) dan NBSS (Neuro-behaviour and Special Sense System). Ada 15 case yang aku dan teman-temanku pelajari selama 1 semester ini, dan ke-15 case itu memiliki probabilitas yang sama di ujian SOOCA. Dari semester ke semester, SOOCA selalu menjadi sesuatu yang special :’)
Yang bisa aku ambil dari SOOCA system kali ini, SOOCA itu bisa menjadi refleksi. Refleksi dari apa? Tentu saja refleksi dari belajar. Entah cara belajar, atau banyak sedikitnya yang kita pelajari selama 1 semester ini. Aku serius.
Tapi tidak selamanya hasil SOOCA itu selalu menjadi refleksi dari belajar. Ada banyak factor lain. Karena tidak sedikit yang mengalami kegagalan saat SOOCA karena kurang beruntung. Kurang beruntung karena mendapat case yang kebetulan kurang dikuasainya, sementara ada case-case lain yang sangat dikuasainya tapi sayangnya ketika SOOCA dia mendapat case yang kurang dikuasainya itu.
Kurang beruntung karena waktunya kurang. Tidak sedikit juga yang mendapat nilai SOOCA pas-pasan atau bahkan harus berakhir gagal karena kekurangan waktu saat mempresentasikan case yang dia dapat. Dia sangat menguasai semua materinya, tapi apa mau dikata saat bel berbunyi yang menandakan waktu habis sementara penjelasannya baru sampai setengah atau tiga perempatnya.
                Dan masih banyak kurang beruntung yang lain lagi, sebut saja itu faktor X, aku kesulitan menjelaskannya dengan kata-kata. Tapi yang jelas, faktor X itu sangat berperan. Bisa jadi dia menjadi faktor yang buruk, tapi sangat mungkin juga dia menjadi faktor baik yang membuat bingung sekaligus senang.
                Hal lain yang aku dapat dari SOOCA kali ini adalah rasa syukur dan sabar.
                Bersyukur, dengan hasil apapun. Berapapun nilai yang kamu dapat saat SOOCA, percayalah itu yang terbaik. Allah selalu tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. Bersyukurlah, dengan hasil itu, jangan menggerutu. Dimanapun, kapanpun. Ada sebuah ilustrasi singkat yang kebetulan aku temui tak lama setelah SOOCA berakhir.
X : gimana hasilnya?
Y : alhamdulillah sih, tapi belum begitu bagus..
X : berapa emang?
Y : 85 L
X : (dalam hati : astaghfirullah, kalo dia dapet nilai yang sama kayak yang aku dapet, mungkin dia bakal nangis kali ya) jangan sedih gitu atuh mukanya, bersyukur kamu teh itu nilai kamu udah A
Y : iya sih, itu A, tapi A kurus, memept banget L
X : (nepuk bahu Y) yaudah, kalo gitu maksimalin aja semester depan biar dapet A gendut
                Hati-hati saat mengeluh. Bisa saja kamu mengeluh karena tidak mendapatkan sesuai target kamu, tapi pikirkan juga orang lain. Kamu mengeluhkan nilai yang masih A dihadapan orang yang mendapat nilai B, atau kamu mengeluhkan nilai B didepan orang yang mendapat nilai C, atau bahkan kamu mengeluhkan nilai C didepan orang yang tidak lulus. Kawan, meskipun kamu tidak mengetahui berapa nilai yang didapat oleh lawan biacaramu itu, tetaplah berhati-hati saat mengeluh. Bisa saja kamu mengeluhkan nilai B didepan orang yang kamu tahu mendapat nilai A, tapi tanpa sadar, di dekat tempatmu bicara ada orang yang mendapat bilai B, atau C, atau bahkan tidak lulus. Bersyukurlah atas apa yang kamu dapat, kawan.
                Dan bersabarlah. Ketika kamu mendapat nilai yang bgus, selalu ingat bahwa nilai A gendut itu juga merupakan ujian dari Allah. Kenapa nilai bagus jadi ujian? Allah ingin melihat bagaimana sikapmu, kawan. apakah kamu akan rendah hati atau malah akan menjadi sombong dengan nilai bagusmu itu? Apakah kamu akan tetap membantu temanmu yang belum beruntung atau kamu malah akan menyombongkan diri dengan membiarkannya? atau, apakah kamu akan tetap melalukan amalan-amalan yang kamu lakukan saat memohon nilai bagus itu kepada Allah, atau malah akan meninggalkannya setelah kamu mendapat nilai bagus yang kamu inginkan? Jangan sapai seperti itu. Ketika mendapatkan nilai yang menurutmu belum memuaskan, bersabarlah, berusahalah lebih keras lagi. Berusahalah semaksimal mungkin. Allah tidak melihat berapa nilaimu, tapi Allah melihat proses yang kamu jalani.
                Semua kemungkinan bisa saja terjadi, kapanpun. Tidak hanya saat SOOCA. Tapi kapanpun. Ingatlah bahwa Allah hanya tinggal mengucapkan “jadi” maka jadilah sesuatu itu.
                Mungkin hanya itu yang bisa aku tulis saat ini. Maaf jika ada kata-kata yang salah. Penulis amatiran ini hanya berusaha menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya :‘)
                Selamat belajar teman-teman yang masih ujian dan selamat berlibur teman-teman yang sudah libur. Semoga apapun yang kita lakukan selalu mendapat ridha dari Allah subhanallahu wata’ala.
                “Suatu hari, kamu hanya akan menjadi bagian dari kenangan seseorang, maka itu jadilah yang terbaik dari kenangan itu dengan melakukan hal yang terbaik yang bisa kamu lakukan“



Jatinangor, Jum’at 2 Januari 2015