Tuesday, 13 January 2015
Sunday, 11 January 2015
Sahabat dan Jingga
kapan jingga menjadi begitu indah?
mengapa pesona ungu seakan terganti?
mengapa dominasi berubah total?
haruskah elegi terbaca semua orang?
nyatanya, itu kegalauan..
nyatanya, itu ketidakpastian..
tapi mengapa burung tak kabarkan lagi kebahagiaan?
mengapa bulan tak lagi tersenyum pancarkan cahayanya?
rindu..
jangan pernah berubah
cukup seperti dulu, selamanya.
***
puisi singkat ini adalah puisi yang dikarang oleh seorang sahabatku yang tinggal di seberang pulau sana :’) (tapi aku telah melakukan perubahan di beberapa bagian baitnya :3 :D )
sahabat yang jauh disana, berapa lama kita tidak bertatap muka secara langsung?
berapa lama kita tidak belajar bersama?
berapa lama aku tidak menceritakan banyak hal padamu secara langsung?
berapa lama aku tidak mendengarkan setiap kata dari cerita2mu secara langsung?
berapa lama kita tidak duduk di teras rumahku sambil menyantap mangga yang masih muda dan asam kesukaanmu?
berapa lama kita tidak menangis dan tertawa bersama?
berapa lama aku tidak mendengar kalimat yang pasti kau ucapkan ketika aku menangis dihadapanmu karena hal itu, “udah, La. lupain, nggak ada gunanya” ? :’)
ya, sudah hampir 4 tahun kami tidak bertatap muka secara langsung..
dan hingga detik ini, aku masih mengingat setiap detail yang terjadi di hari pertemuan terakhir kami, di pagi yang cerah, tapi tak cukup cerah untuk menyembunyikan kesedihan yang sama-sama kami rasakan hari itu.. *kalimat yg ini lebay banget ya -_-v *terbawa suasana ._.v
serta sebagian besar yang terjadi di hari pertama kami bertemu (sekitar pertengahan bulan juli tahun 2006).
saat ini aku sedang duduk didepan laptopku dan ditemani oleh 2 lembar surat dari sahabatku dan sepasang manset pendek yang dia berikan untukku di hari terakhir pertemuan kami :’)
dan aku tidak mengerti kenapa, tapi setiap kali aku membaca ulang surat darinya, aku pasti menangis. (dan itulah salah satu alasannya kenapa aku tidak mau membacanya saat ini).
ketika kau telah memiliki seorang yang kau anggap sahabat dan dia juga menganggapmu sahabat sejatinya, kau akan merasa ada sebuah ikatan yang lebih dari sekedar ikatan saudara diantara kalian..
ketika tiba-tiba kau merasa gelisah, dan ketika itu juga kau menghubungi sahabatmu, lalu kau tahu, ternyata benar, ada sesuatu yang terjadi..
yaa kira-kira seperti itu ikatan yang aku maksud.
atau terkadang, ketika kau berbicara dengannya via telepon (karena jarak yang tidak memungkinkan kalian untuk bertemu secara langsung), kau bisa langsung menduga ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.. dan ternyata memang dugaanmu benar.
aku tidak tahu bagaimana aku bisa menulis ini..
ya, inspirasi memang datang begitu saja..
bahkan dari sepasang manset sekalipun :)
mengapa pesona ungu seakan terganti?
mengapa dominasi berubah total?
haruskah elegi terbaca semua orang?
nyatanya, itu kegalauan..
nyatanya, itu ketidakpastian..
tapi mengapa burung tak kabarkan lagi kebahagiaan?
mengapa bulan tak lagi tersenyum pancarkan cahayanya?
rindu..
jangan pernah berubah
cukup seperti dulu, selamanya.
***
puisi singkat ini adalah puisi yang dikarang oleh seorang sahabatku yang tinggal di seberang pulau sana :’) (tapi aku telah melakukan perubahan di beberapa bagian baitnya :3 :D )
sahabat yang jauh disana, berapa lama kita tidak bertatap muka secara langsung?
berapa lama kita tidak belajar bersama?
berapa lama aku tidak menceritakan banyak hal padamu secara langsung?
berapa lama aku tidak mendengarkan setiap kata dari cerita2mu secara langsung?
berapa lama kita tidak duduk di teras rumahku sambil menyantap mangga yang masih muda dan asam kesukaanmu?
berapa lama kita tidak menangis dan tertawa bersama?
berapa lama aku tidak mendengar kalimat yang pasti kau ucapkan ketika aku menangis dihadapanmu karena hal itu, “udah, La. lupain, nggak ada gunanya” ? :’)
ya, sudah hampir 4 tahun kami tidak bertatap muka secara langsung..
dan hingga detik ini, aku masih mengingat setiap detail yang terjadi di hari pertemuan terakhir kami, di pagi yang cerah, tapi tak cukup cerah untuk menyembunyikan kesedihan yang sama-sama kami rasakan hari itu.. *kalimat yg ini lebay banget ya -_-v *terbawa suasana ._.v
serta sebagian besar yang terjadi di hari pertama kami bertemu (sekitar pertengahan bulan juli tahun 2006).
saat ini aku sedang duduk didepan laptopku dan ditemani oleh 2 lembar surat dari sahabatku dan sepasang manset pendek yang dia berikan untukku di hari terakhir pertemuan kami :’)
dan aku tidak mengerti kenapa, tapi setiap kali aku membaca ulang surat darinya, aku pasti menangis. (dan itulah salah satu alasannya kenapa aku tidak mau membacanya saat ini).
ketika kau telah memiliki seorang yang kau anggap sahabat dan dia juga menganggapmu sahabat sejatinya, kau akan merasa ada sebuah ikatan yang lebih dari sekedar ikatan saudara diantara kalian..
ketika tiba-tiba kau merasa gelisah, dan ketika itu juga kau menghubungi sahabatmu, lalu kau tahu, ternyata benar, ada sesuatu yang terjadi..
yaa kira-kira seperti itu ikatan yang aku maksud.
atau terkadang, ketika kau berbicara dengannya via telepon (karena jarak yang tidak memungkinkan kalian untuk bertemu secara langsung), kau bisa langsung menduga ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.. dan ternyata memang dugaanmu benar.
aku tidak tahu bagaimana aku bisa menulis ini..
ya, inspirasi memang datang begitu saja..
bahkan dari sepasang manset sekalipun :)
Saturday, 10 January 2015
Pertanyaan apa yang paling sering kamu ajukan kepada dirimu?
Belum lama ini aku mendapat pertanyaan di akun ask.fm ku, pertanyaannya seperti ini, "Pertanyaan apa yang paling sering kamu ajukan kepada dirimu?"
dan jawabanku...
apa saja yang kamu lakukan hari ini?
seberapa banyak kau mengingat Allah hari ini?
dosa apa yang kau perbuat hari ini?
bagaimana sholat wajibmu? sudah sempurna kah?
bagaimana tilawahmu? tamat 1 juz kah hari ini?
bagaimana sholat malammu? masih terjaga kah ia?
bagaimana dzikirmu? masihkah ia menemanimu disaat-saat kosongmu? masihkah ia mengiringi tidurmu? masihkah ia selalu terucap di hatimu?
dan bagaimana jika kau dipanggil hari ini?
apakah kau sudah siap?
apakah kau yakin bekalmu cukup untuk menemui-Nya? :’)
Matahari Jingga

Angin yang berhembus memainkan ujung kerudung biru yang dikenakannya. Disinilah ia saat ini, di tepi pantai yang sangat dirindukannya. Sejenak ingatannya melayang ke beberapa tahun silam, saat segalanya bagai cerita di negeri dongeng.
Tidak bisa dipungkiri maksud hatinya. Tidak bisa disangkal lagi apa yang dirasakannya. Semua bagai mimpi. Ya, segalanya muncul dan hilang tak terduga. Segalanya seperti sihir. Seperti dikendalikan entah oleh siapa dan dengan menggunakan apa.
Apa yang kau lakukan di sini? tidak bisakah kau bergerak mengejar apa itu yang menjadi mimpimu? Bukan. Bukan ia yang tidak ingin bergerak. Bukan ia yang tidak mampu bergerak. Bukan juga ia yang inginkan ini semua.
Sang surya telah menampakkan warna jingga yang temaram dihadapannya. Ia masih tidak bergeming. sudah berapa lama dia duduk di atas batu karang itu? Yang ia ingat, sejak tadi dia ditemani oleh sinar mentari yang cerah, langit biru dan awan putih yang indah, burung-burung beterbangan dengan anggun, dan desiran ombak yang seolah mengerti kesunyian hati yang coba ia tutupi.
Ia memang menunggu senja. Melihat warna jingga yang dipancarkan sang surya dengan anggunnya. Dalam diamnya dia berpikir. Dalam diamnya ia mengenang. Dalam diamnya ia menangis...
Tidak ada yang bisa melihatnya menangis disini. Tidak ada. Mentari jingga yang menemaninya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Mentari jingga itu hanya bertahan sementara, sebelum akhirnya warna jingga berubah biru gelap dan akhirnya hitam. Sebelum akhirnya kehadiran sang surya digantikan oleh purnama, langkah kaki itu telah bergerak menjauh. Meninggalkan segalanya dibelakang. Membiarkan deburan ombak menghapus segalanya. Dan berharap semoga masih ada waktu untuknya bertemu lagi dengan sang surya jingga..
Saturday, 3 January 2015
Bismillaahirrahmaanirrahiim
"pernah ada masa-masa dalam cinta kita
kita lekat bagai api dan kayu
bersama menyala, saling menghangatkan rasanya
hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa
tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu
pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini
kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
merasa menghias langit, menyuburkan bumi,
dan melukis pelangi
namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai
di satu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari
mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman
bahkan saling nasehatpun tak lain bagai dua lilin
saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api
Kini saatnya kembali pada iman yang menerangi hati
Pada amal shalih yang menjulang bercabang-cabang
Pada akhlak yang manis ,lembut dan wangi
Hingga ukhuwah kita menggabungkan huruf-huruf menjadi kata
Yang dengannya kebenaran terbaca dan bercahaya..”
— Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah
Friday, 2 January 2015
Catatan Kecil Tentang SOOCA #2
Senin,
29 Desember 2014.
Ini adalah SOOCA keempat yang aku
jalani selama aku belajar di FK Unpad. Di semester ketiga ini, aku mempelajari
EMS (Endocrine and Metabolism System) dan NBSS (Neuro-behaviour and Special
Sense System). Ada 15 case yang aku dan teman-temanku pelajari selama 1
semester ini, dan ke-15 case itu memiliki probabilitas yang sama di ujian
SOOCA. Dari semester ke semester, SOOCA selalu menjadi sesuatu yang special :’)
Yang bisa aku
ambil dari SOOCA system kali ini, SOOCA itu bisa menjadi refleksi. Refleksi dari
apa? Tentu saja refleksi dari belajar. Entah cara belajar, atau banyak
sedikitnya yang kita pelajari selama 1 semester ini. Aku serius.
Tapi tidak
selamanya hasil SOOCA itu selalu menjadi refleksi dari belajar. Ada banyak factor
lain. Karena tidak sedikit yang
mengalami kegagalan saat SOOCA karena kurang beruntung. Kurang beruntung karena
mendapat case yang kebetulan kurang dikuasainya, sementara ada case-case lain
yang sangat dikuasainya tapi sayangnya ketika SOOCA dia mendapat case yang
kurang dikuasainya itu.
Kurang beruntung karena waktunya kurang. Tidak sedikit
juga yang mendapat nilai SOOCA pas-pasan atau bahkan harus berakhir gagal
karena kekurangan waktu saat mempresentasikan case yang dia dapat. Dia sangat
menguasai semua materinya, tapi apa mau dikata saat bel berbunyi yang
menandakan waktu habis sementara penjelasannya baru sampai setengah atau tiga
perempatnya.
Dan masih banyak kurang
beruntung yang lain lagi, sebut saja itu faktor X, aku kesulitan menjelaskannya
dengan kata-kata. Tapi yang jelas, faktor X itu sangat berperan. Bisa jadi dia
menjadi faktor yang buruk, tapi sangat mungkin juga dia menjadi faktor baik
yang membuat bingung sekaligus senang.
Hal lain yang aku dapat dari
SOOCA kali ini adalah rasa syukur dan sabar.
Bersyukur, dengan hasil apapun. Berapapun
nilai yang kamu dapat saat SOOCA, percayalah itu yang terbaik. Allah selalu
tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. Bersyukurlah, dengan hasil itu, jangan
menggerutu. Dimanapun, kapanpun. Ada sebuah ilustrasi singkat yang kebetulan
aku temui tak lama setelah SOOCA berakhir.
X : gimana
hasilnya?
Y : alhamdulillah
sih, tapi belum begitu bagus..
X : berapa emang?
Y : 85 L
X : (dalam hati :
astaghfirullah, kalo dia dapet nilai yang sama kayak yang aku dapet, mungkin
dia bakal nangis kali ya) jangan sedih gitu atuh mukanya, bersyukur kamu teh
itu nilai kamu udah A
Y : iya sih, itu
A, tapi A kurus, memept banget L
X : (nepuk bahu
Y) yaudah, kalo gitu maksimalin aja semester depan biar dapet A gendut
Hati-hati saat mengeluh. Bisa saja
kamu mengeluh karena tidak mendapatkan sesuai target kamu, tapi pikirkan juga
orang lain. Kamu mengeluhkan nilai yang masih A dihadapan orang yang mendapat
nilai B, atau kamu mengeluhkan nilai B didepan orang yang mendapat nilai C,
atau bahkan kamu mengeluhkan nilai C didepan orang yang tidak lulus. Kawan,
meskipun kamu tidak mengetahui berapa nilai yang didapat oleh lawan biacaramu
itu, tetaplah berhati-hati saat mengeluh. Bisa saja kamu mengeluhkan nilai B
didepan orang yang kamu tahu mendapat nilai A, tapi tanpa sadar, di dekat
tempatmu bicara ada orang yang mendapat bilai B, atau C, atau bahkan tidak
lulus. Bersyukurlah atas apa yang kamu dapat, kawan.
Dan bersabarlah. Ketika kamu
mendapat nilai yang bgus, selalu ingat bahwa nilai A gendut itu juga merupakan
ujian dari Allah. Kenapa nilai bagus jadi ujian? Allah ingin melihat bagaimana
sikapmu, kawan. apakah kamu akan rendah hati atau malah akan menjadi sombong
dengan nilai bagusmu itu? Apakah kamu akan tetap membantu temanmu yang belum
beruntung atau kamu malah akan menyombongkan diri dengan membiarkannya? atau,
apakah kamu akan tetap melalukan amalan-amalan yang kamu lakukan saat memohon
nilai bagus itu kepada Allah, atau malah akan meninggalkannya setelah kamu
mendapat nilai bagus yang kamu inginkan? Jangan sapai seperti itu. Ketika mendapatkan
nilai yang menurutmu belum memuaskan, bersabarlah, berusahalah lebih keras
lagi. Berusahalah semaksimal mungkin. Allah tidak melihat berapa nilaimu, tapi
Allah melihat proses yang kamu jalani.
Semua kemungkinan bisa saja
terjadi, kapanpun. Tidak hanya saat SOOCA. Tapi kapanpun. Ingatlah bahwa Allah hanya
tinggal mengucapkan “jadi” maka jadilah sesuatu itu.
Mungkin hanya itu yang bisa aku tulis saat
ini. Maaf jika ada kata-kata yang salah. Penulis amatiran ini hanya berusaha
menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya :‘)
Selamat belajar teman-teman yang
masih ujian dan selamat berlibur teman-teman yang sudah libur. Semoga apapun
yang kita lakukan selalu mendapat ridha dari Allah subhanallahu wata’ala.
“Suatu hari, kamu hanya akan
menjadi bagian dari kenangan seseorang, maka itu jadilah yang terbaik dari
kenangan itu dengan melakukan hal yang terbaik yang bisa kamu lakukan“
Jatinangor, Jum’at
2 Januari 2015
Subscribe to:
Comments (Atom)