Tuesday, 28 April 2015

PertolonganMu, Yaa Allah..


PertolonganMu, Yaa Allah.. datang tanpa terduga.
Datang tanpa ada satu orang pun yang menyangka.

                Jarum jam arlojiku telah menunjukkan pukul 15.45 WIB. Belum ada satu batang hidung pun yang terlihat.’Gimana ini? mau briefing jam berapa ini? astaghfirullah.. tenang, La. Tenang.’ Tidak sampai 2 menit kemudian, Alhamdulillah mulai datang satu-dua panitia. Lampu ruangan masih padam. Kursi belum tertata sebagaimana mestinya. Perlengkapan logistic (microphone, projector dan laptop) masih belum ada. Sembari membereskan kursi-kursi, baru saja aku hendak mencari kontak temanku yang bertugas sebagai logistic hari ini, terlihat 4 orang yang sudah sangat aku kenal sebagai peserta acara skomen sore ini. ‘Astaghfirullah..gimana ini? pesertanya udah datang tapi belum ada persiapan apa-apa. Yaa Allah…’ dalam hati aku semakin cemas. Salah seorang temanku yang bertugas sebagai assessment mengambil dua buah kursi untuk absensi peserta ikhwan dan akhwat.
                Kira-kira sudah ada 6 atau 8 orang peserta telah hadir di dalam ruangan. Perlengkapan logistic masih belum terambil. Aku semakin cemas, kemana seorang temanku itu? Lalu pesan yang aku kirim akhirnya terbalas, ternyata temanku yang bertugas sebagai logistic tadi alerginya kambuh, jadi dia tidak dapat hadir. Aku mulai memutar otak. Mencari nama-nama dalam kepalaku yang mungkin bisa menggantikan tugasnya. Kemudian aku melihat seorang temanku yang lain, dia juga sedang mencari panitia logistic. Aku katakan padanya bahwa teman kami yang bertugas sebagai logistic tidak dapat hadir. akhirnya dialah yang mengambil semua perlengkapan logistic tersebut. Microphone ada, projector ada, laptop ada.
                Aku kembali melirik arlojiku, pukul 16.00. acara seharusnya sudah dimulai. Aku menghubungi temanku yang bertugas sebagai MC. Dia sedang di berjalan dari masjid kampus ke lokasi acara. Aku sedikit lega. Lalu.. Danlap? 'Apakah danlap sudah debriefing oleh pihak SC?' tanyaku dalam hati. Aku bertanya lagi pada seorang temanku mengenai danlap, lalu temanku tadi menghampiri temanku yang bertugas sebagai danlap.
                Pukul 16.05, MC datang. Aku langsung memintanya memulai. Lalu dia bilang, “La, rundown mana?”. Aku tercengang ‘Astaghfirullah…’ aku pinjamkan handphoneku padanya untuk melihat rundown acara disana. Akhirnya, pukul 16.10 acara baru dimulai. Laahawla wa laaquwwata illaabillaah..
                Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..
Temanku sangat baik memimpin acara. Dia pandai membawa diri dihadapan para peserta dan membuat suasana terkesan menyenangkan dan tidak kaku. Rangkaian demi rangkaian acara berlalu dengan lancar. Sesi danlap pun berlangsung dengan sangat baik. Alhamdulillah, ternyata temanku yang bertugas sebagai danlap telah memiliki konsep yang akan dibawa. Sesi materi, MasyaAllah… Alhamdulillah.. Pemateri hari ini sangat luar biasa. Materi Maratibul ‘Amal yang dibawanya disisipkan oleh kisah-kisah terpilih yang sangat menarik perhatian para peserta. Aku tidak mampu berkata-kata. Aku tidak mampu mengungkapkan bagaimana rasa syukurku saat ini. Bagaimana kecemasan yang aku rasakan tadi, aku sangat khawatir acara sore ini tidak akan berjalan dengan lancar karena tidak siapnya persiapan awal tadi.
                Saat ini, aku sedang duduk di bangku belakang, menulis ini. Aku tidak tahu lagi bagaimana nasib acara yang hari ini menjadi tanggungjawabku ini jika tanpa pertolongan dari Allah.
Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..
PertolonganMu, Yaa Allah.. selalu hadir selayaknya kelopak mata yang mengedip disaat ia harus mengedip.
Alhamdulillahirabbil’alaamiin..


Jatinangor, 28 April 2015. 17.40 WIB  

Gedung C2 lantai 3 FK Unpad Jatinangor.

Tuesday, 14 April 2015

Salah

Aku rasa aku telah salah memutuskan untuk bicara padanya

Aku rasa aku telah salah memutuskan untuk mencoba bercerita padanya

Aku rasa aku telah salah memutuskan untuk benar-benar bercerita padanya

Aku rasa aku telah salah untuk mempercayainya

Ini adalah salah satu kelemahanku yang paling aku sesali hingga kini. Inilah kebodohanku yang paling aku sesali hingga kini. Inilah kesalahan fatal yang pernah aku lakukan (menurutku). Mungkin aku memang terkesan tertutup, tapi tidak begitu terhadap orang yang aku percayai. Ya, pada orang yang aku percayai.

Aku belum pernah semenyesal ini selama hidupku. Aku belum pernah merasa sebodoh ini. Aku belum pernah merasa sekecewa ini pada diriku sendiri. Bahkan ketika nilai fisika dan matematika menjadi penghancur utama nilai rata-rata UNku. Atau ketika semua fasilitasku disita oleh Mamah dan Ayah selama 6 bulan karena nilai raporku anjlok. Aku belum pernah sekesal ini pada diriku sendiri.

Aku tahu ini salahku. Sepenuhnya salahku. Salahku yang tidak memfilter. Bukan tidak memfilter, maksudku kurang memfilter karena aku melihat dia sangat baik. Oke, aku akui ini bias terbesar. Dan kini aku menyesali bagaimana aku bisa sepercaya itu padanya dan menceritakan semuanya. Aku sungguh menyesal.

Ketika aku telah mempercayai seseorang, aku sungguh berharap bahwa orang itu mampu dan akan terus menyimpan setiap detail kata yang aku ceritakan padanya. Dan ketika aku bilang semuanya, itu artinya benar-benar semuanya. Tidak peduli apakah jika dia menceritakan pada orang lain dengan menyamarkan namaku, itu artinya dia sudah melanggar janjinya padaku, dan aku sangat tidak suka dengan sikap yang seperti itu. Tidak peduli apakah dia hanya menceritakannya kepada teman baiknya yang lain yang menurutnya pandai menyimpan rahasia, tapi tetap saja dia telah melanggar janjinya padaku. Tidak peduli dengan alasan apaun dia menceritakan semua itu sebagai contoh, aku tetap tidak suka. Ya, aku kesal. Ya, aku marah. Tapi jauh dari itu, aku sedih. Benar-benar sedih. Ketika ada orang yang menceritakan kepada orang lain tentang apa yang telah aku ceritakan kepadanya, terlebih jika itu adalah tentang aku sendiri, aku merasa bahwa orang itu menganggap ceritaku tidak lebih sebagai sebuah lelucon yang pantas jika diceritakan kepada orang-orang. Aku tidak suka. Aku sedih. Aku sangat sedih mengetahuinya. Aku menangis 3 hari. Terlebih lagi aku mengetahui ini dengan mata dan telingaku sendiri.

Ucapan orang tua memang tidak pernah meleset. “Tempat curhat paling aman itu Allah, Nak. Semuanya boleh Mala curhatin ke Allah. Aman. Nggak akan bocor kemana-mana. Nggak ada PHPnya, karena Allah pasti ngasih petunjuk“. Suatu hari, Mamah pernah berkata seperti itu. Dan perkataan Mamah tidak salah sama sekali. Kini aku justru sangat menyesal telah menceritakan hal itu selain kepada Allah…

Aku rasa ini salah satu bentuk teguran Allah kepadaku untuk terus mengingat-Nya. Untuk terus menomorsatukan-Nya. Untuk terus menggantungkan semua hanya pada-Nya. Untuk selalu menyebut nama-Nya. bagaimanapun keadaanku, entahlah itu senang, sedih, stress, Allah ingin agar hanya Allah lah yang ada dalam hati dan pikiranku. Agar aku hanya meminta solusi pada-Nya, bukan pada orang lain.

Aku rasa benar, Allah telah menegurku…

Padahal aku punya Allah, tapi mengapa aku ceritakan juga pada yang lain?

Padahal aku punya Allah, tapi mengapa aku justru menangis dihadapan makhluknya?

Padahal aku punya Allah.. aku punya Allah…

Astaghfirullah..

Astaghfirullah…

Astaghfirullah… :’(




Tuesday, 7 April 2015

Yaa Allah.. Sembuhkanlah Dia

          Dia terlihat biasa saja. Tetap bersekolah layaknya anak sekolah seusianya. Masih terlihat baik-baik saja seperti 4 tahun lalu ketika aku berpamitan. Dia terlihat kuat. Tetap membanggakan orang tua dengan prestasinya di sekolah. Dia masih terlihat sama. Aku berusaha menerka apakah dia masih usil pada kami sepupu-sepupunya seperti dulu. Terutama padaku karena aku lah yang dia kenal lebih lama-aku cucu pertama di keluarga ayah, dia kedua. Kami terpaut usia 4 tahun. 6 tahun setelahnya, barulah lahir cucu ketiga di keluarga ayah-. Seperti potongan film yang diputar ulang, ingatanku kembali ke masa kanak-kanak kami. Saat itu, tahun 2006, kami sekeluarga sudah pindah ke Aceh. Dan saat itu, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan sepupuku ini. Ekspektasiku sebagai seorang anak usia 10 tahun ketika pertama kali bertemu dengan sepupunya yang baru berusia 6 tahun saat itu, sangat tipikal. Aku kira dia adalah anak yang baik, pendiam, penurut dan tidak banyak tingkah. Nyatanya? Dia seperti tidak pernah kehabisan ide untuk mengusiliku. Tidak hanya aku, sepupu-sepupu kami yang lain (cucu dari adik-adik kakek kami), bahkan Mamaku, Tante dan Om juga pernah menjadi korbannya. Ya, begitulah dia. Sepupuku yang paling usil.
          Dia hanya terhilat lebih tinggi sekarang. Tingginya hampir setara denganku. Wajahnya tidak banyak berubah. Masih terlihat usil seperti dulu. Kali ini aku tidak lama bertemu dengannya, karena dia dan ayahnya harus segera kembali ke Jakarta untuk beberapa hari, dan setelah itu langsung pulang ke Aceh. Waktunya hanya sedikit untuk jalan-jalan di Bandung. Sayang sekali aku sedang tidak libur kuliah, jadi aku hanya sempat bertemu dengannya selama beberapa menit-mereka mampir ke Jatinangor dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta-. Tadi aku bilang mampir, maksudnya benar-benar mampir. Tidak sampai 10 menit mereka disini, lalu pergi lagi. Ayahku juga ikut. Tipikal orang-orang yang tidak suka menyia-nyiakan waktu.
          Beberapa hari kemudian, aku mendapat telpon dari Ayah. Disini Ayah menceritakan semuanya. Keadaan sepupuku itu yang sebenarnya. Aku terkejut. Aku benar-benar terkejut. Aku tahu dulu dia pernah sakit. Tapi aku kira sakitnya itu sudah sembuh karena dia sudah menjalani pengobatan hingga dioperasi di Malaysia, dan setelah itu dia tidak mengalami keluhan apapun sama sekali. Kali ini aku benar-benar terkejut mendengar cerita Ayah. Aku menangis tanpa suara di telepon. “Mala kalau chating atau sms dia jangan dibawa sedih ya, Nak. Biasa aja, anggap aja kayak kalau dia itu nggak sakit. Dia nggak suka, Nak. Waktu dia sama wak Zul masih nginap di rumah, wak Zul cerita sama Ayah. Dia nggak pernah mau ngomong kalo di telepon ditanya-tanya tentang sakitnya dia. Dia memang keliatan nggak sakit, Nak. Kayak pas kami ke mampir ke tempat Mala pun dia nggak keliatan sakit kan, Nak?“. Aku terdiam. Lumayan lama. “Iya, Yah..“ Hanya itu kalimat yang mampu aku keluarkan.

Yaa Allah... sembuhkanlah dia...

sebelum semua terlambat (repost)

sebelum semua terlambat, izinkan diri ini untuk terus melaksanakan perintahMu, mengingatMu setiap waktu

sebelum semua terlambat, izinkan lisan ini untuk selalu mengucapkan namaMu

sebelum semua terlambat, izinkan hati ini untuk selalu mengagungkan namaMu

sebelum semua terlambat, izinkan akal ini untuk memilah mana yang yang baik dan mana yang buruk

sebelum semua terlambat, izinkan air mata ini mengalir…mengiringi tangis penyesalan atas semua dosa yang telah lalu

sebelum semua terlambat, izinkan tangan ini, jemari ini, untuk terus melakukan hal yang bisa memberi manfaat untuk orang lain

sebelum semua terlambat, izinkan kaki ini untuk terus melangkah menuju tempat yang Engkau ridhai

sebelum semua terlambat, izinkan mata ini tetap melihat semua tanda kebesaranMu

sebelum semua terlambat, izinkan telinga ini untuk tetap mendengar lantunan ayat-ayatMu

sebelum semua terlambat, Yaa Rabbii..

jangan biarkan tangan ini melakukan hal yang Engkau murkai

jangan biarkan kaki ini melangkah ke arah yang justru akan membawaku menjauhiMu

jangan biarkan lisan ini mengucapkan hal-hal yang Engkau benci

jangan biarkan hati ini lalai, jangan bekukan hati ini

jangan biarkan air mata ini tumpah dalam kesia-siaan

jangan biarkan mata ini hanya melihat nikmat dunia yang bukan apa-apa

jangan biarkan telinga ini mendengarkan hal-hal yang percuma

jangan biarkan diri ini seorang diri, Yaa Allah..

sungguh, tiada sesuatu yang terjadi diluar kuasaMu

bahkan tiada satu helai daun yang jatuh tanpa sepengetahuanMu..

ampuni aku yang lalai ini, Yaa Allah yang Maha pengampun

lindungi diri yang lemah ini dalam naunganMu, Yaa Rahim..



Jatinagor, Rabu 18 Februari 2015
1:25 a.m

Jadilah Dirimu Sendiri

                Ini adalah salah satu tema favoritku. Sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu, aku pernah membaca sebuah teenlit yang menceritakan kisah dua anak perempuan yang memiliki nama yang mirip, hanya terpaut huruf 'h’. Nama yang mirip, namu kepribadian yang sangat bertolak belakang. Saat itu aku langsung membayangkan mereka berdua memiliki kepribadian masing-masing melankolis-plegmatis dan sanguinis-koleris. Ya, setidaknya itulah yang dapat aku simpulkan tentang watak mereka di dalam teenlit tersebut. Ada sebuah kalimat di teenlit itu yang sampai sekarang masih aku ingat, “Kamu, ya kamu. Dia, ya dia. Kamu nggak bisa disamakan dengan dia. Begitupun dia, nggak bisa disamakan dengan kamu. Kamu yang seperti ini, kamu yang ceria, kamu yang lucu, kamu yang cerewet, kamu yang peduli, ini adalah kamu. Kamu yang unik. Inilah yang membuat kamu yang selama ini aku kenal sebagai kamu’’.
                Jujur saja, aku sedikit tertegun ketika membacanya. Kemudian aku berpikir, bagaimana orang lain melihatku sebagai aku? Aku tidak berani menerka-nerka. Saat itu aku belum memahami apa yang dimaksud dengan menjadi diri sendiri. Apakah maksudnya adalah melakukan sesuatu yang disenangi orang lain dengan masih bersikap sebagai diri sendiri? Ataukah melakukan hal yang bisa membuat orang menyenangi kita dan pada akhirnya kita punya banyak teman? Bahkan hingga detik ini, aku masih belum mendapatkan jawaban yang pasti mengenai hal ini.
                Sempat aku mencoba untuk mendiskusikan hal ini dengan seorang temanku, tapi kelihatannya dia pun sama kebingungannya juga denganku. Akhirnya aku mencoba untuk menyimpan saja pertanyaan ini, siapa tahu aku akan menemukan jawabannya suatu hari nanti.
                Setelah sekian lama pertanyaan itu terkubur dalam memoriku, beberapa waktu lalu aku mendapatkan sebuah pernyataan yang menyinggungnya dan pertanyaan itu muncul kembali. Seorang temanku meminta pendapatku mengenai sikap apa yang harus dia ambil. Dia mendapat nasehat dari seorang temannya yang lain untuk melakukan apa yang orang lain suka agar dia tidak mendapat masalah dan dia juga bisa mendapat banyak teman karenanya. Dia juga mendapat nasehat dari temannya itu untuk tidak melawan, lakukan saja apa yang orang lain suka, dengan begitu tidak akan ada lagi yang kan membicarakannya di belakang karena dia tidak melakukan hal yang ‘berbeda’ lagi.
                Curhatan temanku yang satu ini, jujur saja, membuatku tertegun. Aku sempat bertanya-tanya kira-kira siapa temannya yang menyarankan ini? Tapi aku urung menanyakannya karena aku pikir tidak penting dan bukan urusanku untuk mengetahui siapa orangnya. Yang menarik perhatianku adalah sarannya ini. Persis seperti pertanyaanku 7 atau 8 tahun yang lalu. Perlukah kita melakukan semua itu hanya agar disukai banyak orang atau setidaknya agar terhindar dari gunjingan orang? Aku masih meragukannya. Oke, aku mulai memikirkan nama-nama orang yang mungkin bisa aku ajak berdiskusi mengenai hal ini.
                Sebenarnya, hal ini sangat sering terjadi. Bahkan setiap hari. Setiap pagi, ketikan kaan berangkat ke kampus, kamu membuka lemarimu, melihat-lihat baju  mana yang akan kamu kenakan hari ini. Kemeja yang mana, kerudung yang mana, polos atau bermotif, rok yang mana, bros mana yang kamu rasa match dengan kerudung dan bajumu, kaos kaki, sepatu yang mana, tas bahu atau tas punggung. Semua itu, semua keputusan itu, atas dasar apa? Apakah karena kamu memang menyukai style itu? Atau karena kamu ingin dilihat rapi dan match?
                Sama halnya jika kamu belajar. Kamu belajar karena perintah Allah untuk menuntut ilmu? Kamu belajar karena kamu memang ingin tahu? Kamu belajar karena kamu mersa ilmu yang kamu punya masih sangat sedikit, krenanya kamu butuh belajar? Atau kamu belajar karena ingin terlihat rajin? Jawabannya ada pada dirimu sendiri.
               Aku memang belum menemukan jawaban pastinya, aku juga belum sepenuhnya memahami. Selama ini, aku bahkan tidak yakin apakan kau telah sepenuhnya menjadi diriku sendiri atau belum. Sebagai penutup, aku ingin mencantumkan sebuah quote yang entah bagaimana bisa ada di kepalaku saat ini. “Kamu tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk mendapatkan perhatian dari segelintir orang yang awalnya kamu kira mereka akan menjadi temanmu untuk selamanya. Jadilah dirimu sendiri. Lakukankah apa yang membuatmu merasa nyaman. Lakukankah apa yang membuatmu akan terlihat seperti ‘kamu‘ apa adanya. Lakukanlah apa yang mencerminkan dirimu. Tanpa dibuat-buat.“

Monday, 6 April 2015

Belum Ada Hal Berarti

Belum ada hal berarti yang pernah aku lakukan selama ini.
Belum ada hal berarti yang aku lakukan untuk diriku sendiri, sanak sadaraku, orang-orang di sekitarku. 
Belum ada hal berarti yang aku lakukan untuk membahagiakan orang lain. 
Belum ada hal berarti yang aku lakukan untuk meringankan beban orang lain. 
Belum ada hal berarti yang aku lakukan untuk membawa diri ini ke arah yang lebih baik. 
Belum ada hal berarti yang aku lakukan untuk merubah arah kurva bibir mereka yang sedang bersedih. 
Belum ada hal berarti yang aku lakukan untuk menyingkirkan tetesan air mata yang mengalir di pipi mereka yang terluka. 
Belum ada hal berarti yang aku lakukan untuk mereka.
Belum ada hal berarti yang aku lakukan.
Adakah kesempatan untukku?
Adakah waktu tersisa untukku?
Kata mereka, "Gajah mati meninggalkan gadingnya. Harimau mati meninggalkan lorengnya. Manusia mati meninggalkan namanya. Karena manusia kelak akan dikenang sebagai siapa dan apa yang dia lakukan untuk orang lain."
Benarkah? 
Lalu bagaimana dengan aku yang belum pernah melakukan hal berarti ini?
Bagaimana dengan aku yang bahkan aku pun tidak tahu berapa lama lagi waktu yang aku punya.
Kini aku mengerti apa maksud dari kalimat ini, "Ya Allah, izinkan aku hidup sedikit lebih lama. Masih sangat banyak yang ingin aku lakukan di dunia ini.. Aku ingin bisa lebih lama membahagiakan mereka.."
Kini aku benar-benar mengerti.
Segalanya bukan tentang apa saja yang telah kamu dapatkan, tapi tentang apa yang telah kamu beri.
Memberi, memberi, dan memberi.
Izinkan aku, Allah..
Izinkan aku, untuk memberi lebih banyak..

Friday, 3 April 2015

bukan tentang bagaimana mereka melihatmu, tapi bagaimana Allah melihatmu

Karena tidak akan pernah menjadi masalah bagaimana manusia lain memandangmu. Tidak masalah bagaimana manusia lain menganggapmu buruk, baik dari segi sikap ataupun fisik. Tidak masalah bagaimana manusia lain yang bahkan tidak mengetahui apa-apa tentang dirimu menilaimu buruk dan membicarakan keslahan yang pernah kamu lakukan. Tidak masalah bagaimanaun kamu dimata manusia lain. Yang jadi masalah adalah, bagaimana kamu di mata Allah. Bagaimana Allah menilai amal ibadah yang kamu lakukan. Bagaimana kamu mengerjakan perintah-Nya. Bagaimana kamu menjalankan kewajibanmu tanpa menuntut banyak dari-Nya. Bagaimana kamu fokuskan hatimu hanya pada-Nya. Bagaimana kamu mengagungkan-Nya diatas segalanya.Ya, hanya Allah yang berhak menilai. Hanya Allah yang mempunyai standarnya. Hanya Allah yang berhak menentukan apakah seorang manusia itu tergolong dalam golongan orang baik ataukah sebaliknya. Hanya Allah. Bisa saja seorang manusia terlihat baik, itu karena Allah lah yang telah menyembunyikan aibnya. Bisa saja manusia itu terlihat buruk, itu karena Allah ingin menegurnya melaui orang disekitarnya agar dia merubah kelakuan buruknya. Tidak hanya itu, masih ada ratusan bahkan ribuan probabilitas lain yang mungkin Allah lakukan. Karena Allah Maha segalanya.


sekali lagi, bukan masalah bagaimana manusia lain yang bahkan tidak mengetahui apapun tentangmu menilai baik buruknya kamu yang perlu kamu khawatirkan. Tapi bagaimana Allah melihatmu. Sebagai seorang hamba yang bertaqwa kah? atau sebaliknya?

Jatinangor, 3 April 2015 11.48 p.m