SOOCA (Student Objective Oral Case Analysis)
merupakan ujian lisan yang selalu menjadi “sesuatu” bagi seluruh mahasiswa FK
Unpad setiap semesternya. Kecuali saat semester 1, ujian SOOCA juga ada di UTS.
Ujian SOOCA semester ini adalah ujian SOOCA ke-5 yang telah aku lewati selama
aku kuliah disini. System yang diujikan pada SOOCA di semester ini adalah
Dermato-musculoskeletal System (DMS) dan Hemato-immunology System (HIS).
Acne Vulgaris and Irritant Contact Dermatitis
Angina Von Ludwig (Phlegmon)
Maxillofacial Trauma
Low Back Pain e.c Osteoporosis
Osteoarthritis
Shoulder Dislocation
Burn Injury
Mungkin sudah tertebak
apa yang dipelajari dari setiap
kasusnya. Ya, mulai dari kulit, otot, tulang, pembuluh darah, saraf, sendi,
bahkan gigi pun dipelajari (pada kasus kedua). Dan semuanya tidak sesederhana
itu. Di system inilah dipelajari hampir semua anatomy tubuh manusia yang memang
sangat kompleks. Subhanallah, Allah begitu sempurna menciptakan manusia. Sangat
banyak yang bisa ditadaburi.
DMS terlewati, dan
memasuki HIS. Menurut keterangan yang aku dapat dari beberapa orang kakak tingkat,
HIS lebih mudah daripada DMS. Ada 6 kasus yang dipelajari dan diujikan untuk
SOOCA pada system HIS :
Iron Deficiency Anemia
β-Thalassemia Major
Lymphadenopathy
Anaphylaxis and Drug Eruption (Urticaria and Angioedema)
Systemic Lupus Eritematosus
Steven Johnson Syndrome
Jadi, total kasus yang diujikan
saat SOOCA semester ini ada 13.
Ya, hafalan HIS memang
tidak sebanyak DMS. Tapi pemahaman HIS sedikit lebih ekstra dibandingkan DMS. Karena
pada system ini, yang dipelajari adalah darah dan system imun yang sama sekali
tidak bisa disebut sederhana. Reaksi-reaksi alergi juga dipelajari disini. Banyak
sekali missing link yang aku temui dan baru bisa aku hubungkan setelah membaca
berkali-kali :’) subhanallah.. lagi-lagi, Allah begitu menyayangi makhluk
ciptaannya. Allah lengkapi kita dengan system imun yang sedemikian kompleks
agar tubuh kita bisa bertahan melawan pathogen sehingga kita bisa selalu sehat.
Sekarang masih mau males ibadah? Kurang apa sih yang Allah kasih? :’
Oke, kembali ke topik,
SOOCA.
Beberapa hari sebelum
SOOCA, aku sakit. Sakit tenggorokan,
batuk, dan bersin-bersin yang berakhir dengan demam dan nyeri di seluruh
persendian. Karena tidak kuat ke kampus, aku diantar ke klinik oleh salah
seorang teman baikku. Ternyata aku hanya demam e.c viral infection dan tonsilku
membengkak lagi. Ketika sedang menunggu obat, aku dan temanku berbincang
mengenai ujian. Aku masih sangat ingat sekali, “SOOCA itu bukan segalanya. SOOCA
itu nggak bisa jadi tolak ukur atas kepintaran seseorang. Karena banyak banget factor
x yang ikut andil dalam SOOCA. Tapi sayangnya, SOOCA jadi salah satu
perhitungan terbesar untuk nilai akhir. Ya gitu juga IPK. IPK juga nggak bisa
jadi satu-satunya indicator kepintaran seseorang. Apalagi kalo IPKnya itu
dibantu banget sama SOOCA. Yang pantes jadi tolak ukur itu MDE. Kenapa? Karena kalo
SOOCA, bisa aja dia pas banget dapet case yang paling dia kuasai dan dokternya
baik banget, jadilah nilai SOOCAnya 90keatas. Kalau nilai SOOCAnya 90keatas,
MDEnya 50 pun dia masih bisa dapet nilai akhir paling nggak B. Tapi bisa jadi juga kan kalo dia SOOCAnya
dapet case yang kurang dikuasai, akhirnya nilai SOOCAnya kurang, otomatis, 40%
dari nilai akhirnya diambil dari nilai SOOCAnya yang kurang itu, ngaruh banget
kan ke MDEnya meskipun MDEnya bagus? Contoh lain. Dia ga ada lepas case sama
sekali. Dia kuasai semua case. Dia bisa semua case, tapi pas SOOCA, dia
keasikan ngejelasin sampe lupa waktu, akhirnya malah ga kesebut semua. Nilainya
kurang, ngaruh juga ke nilai akhirnya. Apalagi kalo nilai MDEnya itu juga
pas-pasan. Makin pas-pasan juga kan nilai akhirnya?”
Aku terdiam.
“Ya, tapi ada yang
lebih baik juga.”
“Apa?”
“Kalo SOOCAnya bagus,
MDEnya juga bagus. Maksudku, dia dapet nilai SOOCA yang bagus karena memang
dia belajarnya bener-bener. Usahanya serius, do’anya juga nggak kalah kuat. Disini,
nggak Cuma hasil akhir yang dilihat kayak contoh pertama yang aku sebutin tadi.
Tapi karena memang prosesnya juga sangat baik. Allah selalu melihat prosesnya
kan? Nah, ini yang aku maksud. Tau nggak? hasil baik itu ada 3.”
“3?”
“Iya, ada 3. Pertama,
hasil baik dari yang kurang baik. Kedua, hasil baik dari yang baik. Ketiga,
hasil baik dari yang terbaik. Dari contoh-contoh yang aku sebutin tadi, contoh
pertama itu hasil baik yang pertama. Kenapa aku sebut itu hasil baik dari yang
kurang baik? Karena usahanya kurang. Dia nggak kuasai semua case sebagaimana
mestinya. Bahkan mungkin dia cuma kuasai 2 atau 3 case. Dan Allah menghendaki
dia mendapat hasil baik dengan memberinya case yang dia kuasai. Hasil baik dari
yang baik, misalnya dia kuasai semua case, tapi bener2 superficial. Dia nggak
ada usaha lebih untuk memerdalam. Jadi ya pemahamannya cuma segitu-gitu aja. Tapi
Allah menghendaki juga dia mendapat hasil yang baik dari usahanya untuk
mengusai semua case, meskipun ya kasarnya dia kuasai semua case itu cuma sebatas
kulit luar + sedikit isinya. Nah, contoh terakhir yang aku bilang tadi, itulah
hasil baik dari yang terbaik. Dapet poinnya?”
Aku tidak bisa berkomentar apa-apa. Aku terlalu
tertohok mendengarnya. Speechless. Tapi dalam hati, aku akui semua itu memang
benar. Bagaimanapun hasil yang diperoleh saat ujian SOOCA, semua murni kehendak
Allah. Allah yang memberi kemudahan kepada kita untuk menghafal. Allah yang
memberi kemudahan kepada kita untuk mngingat kembali apa yang sudah dihafalkan
ketika kita membuka lembar soal case SOOCA. Allah yang memberi kita kemampuan
untuk menuliskan lagi yang telah kita hafalkan di flipchart yang akan kita
presentasikan dihadapan dua dokter penguji. Allah yang memberi kita kemudahan
untuk berbicara dihadapan kedua dokter penguji mengenai case apa yang kita dapat
di ujian SOOCA, berikut ketika kita menjelaskan concept map, pathogenesis,
pathophysiology, dan semua basic science serta clinical science terkait case
yang kita dapatkan. Allah yang memudahkan semua itu. Allah juga yang membuat
dokter-dokter penguji memperhatikan presentasi kita. Allah yang menggerakkan
tangan dokter-dokter penguji untuk menuliskan nilai SOOCA kita. Semua atas
kuasa Allah. Semua telah tertulis. Ya, semua telah tertulis di lembaran naskah
kehidupan yang telah Allah persiapkan untuk masing-masing kita.
Catatan singkat ini,
memang tulisan terakhirku tentang SOOCA. Padahal tahun lalu, aku pernah berniat
ingin mengabadikan setiap SOOCAku dalam tulisan. Tapi Allah lah yang maha
membolak-balik hati manusia. Aku tidak lagi ingin menulis apa-apa tentang
SOOCA. Ya, setelah ini.
Setiap semester, Allah
selalu menegurku dengan sangat halus melalui SOOCA. Entah itu cerita dari orang
lain, atau yang aku alami sendiri.
Lalu, apakah kamu hanyak akan belajar untuk SOOCA?
Pikirkan lagi..
Belajarmu saat ini, adalah untuk pasienmu kelak.
Alhamdulillah, Yaa
Allah.. Engkau masih menyayangiku dengan menegurku selagi aku masih hidup di
dunia. Dan Engkau menegurku dengan halus. Sangat halus..
“Allah tidak
membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala)
dari kebajikan yang dikerjakannya dan mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang
diperbuatnya. (Mereka berdo’a), ‘Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami
jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Wahai Tuhan kami, janganlah
Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada
orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, jangan Engkau pikulkan kepada kami
apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Mafkanlah kami, ampunilah kami, dan
rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami…’.” (Q.S
Al-Baqarah : 286)

No comments:
Post a Comment