Saturday, 14 January 2017

untukmu, yang sedang mencari siapa dirimu.



Ini adalah salah satu tema favoritku. Sekitar 9 atau 10 tahun yang lalu, aku pernah membaca sebuah teenlit yang menceritakan kisah dua anak perempuan yang memiliki nama yang mirip, hanya terpaut huruf 'h’. Nama yang mirip, namu kepribadian yang sangat bertolak belakang. Saat itu aku langsung membayangkan mereka berdua memiliki kepribadian masing-masing melankolis-plegmatis dan sanguinis-koleris. Ya, setidaknya itulah yang dapat aku simpulkan tentang watak mereka di dalam teenlit tersebut.

Ada sebuah kalimat di teenlit itu yang sampai sekarang masih aku ingat, “Kamu, ya kamu. Dia, ya dia. Kamu nggak bisa disamakan dengan dia. Begitupun dia, nggak bisa disamakan dengan kamu. Kamu yang seperti ini, kamu yang ceria, kamu yang lucu, kamu yang cerewet, kamu yang peduli, ini adalah kamu. Kamu yang unik. Inilah yang membuatmu menjadi kamu yang selama ini aku kenal sebagai kamu’’.

Jujur saja, aku sedikit tertegun ketika membacanya. Kemudian aku berpikir, bagaimana orang lain melihatku sebagai aku? Aku tidak berani menerka-nerka. Saat itu aku belum memahami apa yang dimaksud dengan menjadi diri sendiri. Apakah maksudnya adalah melakukan sesuatu yang disenangi orang lain dengan masih bersikap sebagai diri sendiri? Ataukah melakukan hal yang bisa membuat orang menyenangi kita dan pada akhirnya kita punya banyak teman? Bahkan hingga detik ini, aku masih belum mendapatkan jawaban yang pasti mengenai hal ini.

Sempat aku mencoba untuk mendiskusikan hal ini dengan seorang temanku, tapi kelihatannya dia pun sama kebingungannya juga denganku. Akhirnya aku mencoba untuk menyimpan saja pertanyaan ini, siapa tahu aku akan menemukan jawabannya suatu hari nanti.

Setelah sekian lama pertanyaan itu terkubur dalam memoriku, beberapa waktu lalu aku mendapatkan sebuah pernyataan yang menyinggungnya dan pertanyaan itu muncul kembali. Seorang temanku meminta pendapatku mengenai sikap apa yang harus dia ambil. Dia mendapat nasehat dari seorang temannya yang lain untuk melakukan apa yang orang lain suka agar dia tidak mendapat masalah dan dia juga bisa mendapat banyak teman karenanya. Dia juga mendapat nasehat dari temannya itu untuk tidak melawan, lakukan saja apa yang orang lain suka, dengan begitu tidak akan ada lagi yang akan membicarakannya di belakang karena dia tidak melakukan hal yang ‘berbeda’ lagi.

Curhatan temanku yang satu ini, jujur saja, membuatku tertegun. Aku sempat bertanya-tanya kira-kira siapa temannya yang menyarankan ini? Tapi aku urung menanyakannya karena aku pikir hal itu tidak penting dan bukan urusanku untuk mengetahui siapa orangnya. Yang menarik perhatianku adalah sarannya ini. Persis seperti pertanyaanku 9 atau 10 tahun yang lalu. Perlukah kita melakukan semua itu hanya agar disukai banyak orang atau setidaknya agar terhindar dari gunjingan orang? Aku masih meragukannya. Oke, aku mulai memikirkan nama-nama orang yang mungkin bisa aku ajak berdiskusi mengenai hal ini.

Sebenarnya, hal ini sangat sering terjadi. Bahkan setiap hari. Setiap pagi, ketika akan berangkat ke kampus, kamu membuka lemarimu, melihat-lihat baju mana yang akan kamu kenakan hari ini. Kemeja yang mana, kerudung yang mana, polos atau bermotif, rok yang mana, bros mana yang kamu rasa match dengan kerudung dan bajumu, kaos kaki, sepatu yang mana, tas bahu atau tas punggung. Semua itu, semua keputusan itu, atas dasar apa? Apakah karena kamu memang menyukai style itu? Atau karena kamu ingin dilihat rapi dan match? Atau kamu ingin orang lain melihatmu seperti itu? Bercerminlah sekali lagi, apakah penampilan itu sudah menggambarkan bagaimana dirimu yang sesungguhnya?

Sama halnya jika kamu belajar. Apakah kamu belajar karena perintah Allah untuk menuntut ilmu? Apakah kamu belajar karena kamu memang ingin tahu? Apakah kamu belajar karena kamu mersa ilmu yang kamu punya masih sangat sedikit, sehingga kamu merasa butuh belajar? Atau kamu belajar karena ingin terlihat rajin? Jawabannya ada pada dirimu sendiri.

Aku memang belum menemukan jawaban pastinya, aku juga belum sepenuhnya memahami. Selama ini, aku bahkan tidak yakin apakan kau telah sepenuhnya menjadi diriku sendiri atau belum. Sebagai penutup, aku ingin mencantumkan sebuah quote yang entah bagaimana bisa ada di kepalaku saat ini.

“Kamu tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk mendapatkan perhatian dari segelintir orang yang awalnya kamu kira mereka akan menjadi temanmu untuk selamanya. Jadilah dirimu sendiri. Lakukankah apa yang membuatmu merasa nyaman. Lakukankah apa yang membuatmu akan terlihat seperti ‘kamu‘ apa adanya. Lakukanlah apa yang mencerminkan dirimu. Tanpa dibuat-buat.“ 

No comments:

Post a Comment