Sunday, 1 February 2015

Dulu dan Kini

Dulu, kalau tidak disitu, kini dimana aku?

Kini, kalau tidak disini, kelak dimana aku?

Dulu, kalau tidak begitu, kini bagaimana aku?

Kini, kalau tidak begini, kelak bagaimana aku?

Cuma tahu dulu aku seperti itu

Cuma tahu kini aku seperti ini

Tanpa tahu kelak akan seperti apa aku




Entah apa yang menggerakkan tanganku untuk menulis saat ini, padahal aku sadar betul masih sangat banyak materi kuliah yang belum aku baca. Yang aku tahu, saat ini, aku hanya ingin menulis. Tentang apapun. Aku tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini aku banyak memikirkan hal-hal secara random. Saat ini misalnya, entah kenapa aku teringat pada saat aku akan berpisah dengan mereka, dengan tanah rencong itu. Terekam jelas bagaimana mereka mengajakku untuk ikut ke gedung SMP dan disana kita semua makan bakso bersama, kemudian salah seorang dari mereka menginisiasi acaranya. Memintaku untuk menceritakan kepada mereka bagaimana first impressionku terhadap mereka dan apa yang aku rasakan setelah setahun aku berada di kelas yang sama dengan mereka. Dan juga teman-teman sekamarku di asrama. Dan entah bagaimana semua kalimat itu mengalir begitu lancar dari lidahku, dan tentu saja dari hatiku.

Banyak sekali memang. Meskipun hanya setahun, tapi percayalah, sangat banyak yang terjadi. Peristiwa demi peristiwa yang terjadi tidak hanya menggores diingatanku sebagai kenangan, tapi juga sebagai pelajaran.

Saat pertama kali aku menginjakan kakiku di asrama itu, jujur saja aku takut. Aku takut bangun kesiangan karena tidak ada mamah yang biasa membangunkanku. Aku takut tidur dalam ruangan gelap karena aku berani bertaruh teman-teman sekamarku akan mematikan lampu saat akan tidur. Aku takut berjalan sendirian di lorong koridor yang sepi jika ingin ke kamar mandi saat tengah malam. Aku takut tidak bisa mengimbangi mereka. Aku takut jika aku sakit tidak ada mamah yang merawatku. Aku juga takut tidak dapat bersosialisasi dengan baik karena sifat tertutupku yang sangat keterlaluan saat itu. Aku tidak bisa menginisiasi sebuah percakapan. Kalaupun ada percakapan yang aku mulai, mungkin hanya akan bertahan beberapa kalimat, lalu selesai sudah. Oke, aku akui ini berlebihan. Ketakuta yang aku rasakan dulu memang sangat tidak berdasar. Satu-satunya yang bisa aku andalkan untuk menghadapi ketakutanku adalah sebuah kalimat, “innallaha ma’ana”, Allah selalu bersamaku.

Hari-hari pertama aku tinggal di asrama itu, berjalan dengan hmm… lumayan lancar. Aku lumayan bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan baru yang sangat berbeda itu. Asrama yang aku tempati memang bukan asrama mewah dengan AC di setiap kamarnya. Asrama yang simple menurutku, tapi nyaman untuk ditinggali. Ya, setidaknya jarak gedung sekolah dengan gedung asrama tidak jauh. Hanya butuh waktu 5 menit untuk sampai ke sekolah dari asrama dengan berjalan kaki.

Kelas baru. Aku langsung menempati tempat duduk paling depan. Awalnya aku duduk sendirian, kemudian seorang temanku yang aku ketahui bernama Tia duduk disebelahku setelah sebelumnya bertanya apa tempat ini kosong atau tidak. Masa orientasi juga aku lalui dengan lancar, tanpa hambatan. Aku tidak tahu apa yang bisa aku ceritakan dari rangkaian ospek itu disini, aku tidak menemukan apa-apa yang berarti selain baris-berbaris, aksesoris warna-warni, dan masih banyak lagi yang lain, tapi aku tidak mau membahasnya disini.

Kegiatn belajar mengajar yang aku jalani juga berjalan lancar. Dengan jumlah siswa yang hanya 22 orang dalam satu kelas, sangat mempermudah guru untuk mengontrol kami. Awalnya, aku pesimis akan mendapatkan nilai terbaik di kelas ini, karena semua anaknya pintar menurutku. Mereka rajin belajar, dan sisi pesimisku selalu muncul paling kuat saat ulangan harian atau ulangan umum. Bukan apa-apa, aku hanya trauma jika mengingat nilai ulangan kimia pertamaku yang langsung dimasukkan ke dalam rapor bulanan tanpa ada penambahan nilai untuk tugas dan sebagainya. Aku stress melihat nilaiku. Aku menangis karena tidak tahu apa yang harus aku katakan pada mamah dan ayah saat mempelihatkan rapor bulananku. Mulai saat itu, aku tidak mau lengah lagi. Termasuk untuk pelajaran yang tidak aku sukai (read : fisika). Dengan pertolongan Allah, aku berhasil mengatasi semuanya. Nilai ulangan kimia pertamaku itu ternyata tidak begitu berpengaruh untuk nilai di akhir semester. Entah bagaimana, semua guru mengenalku. Aku menduga karena aku masuk ke sekolah itu tanpa harus mengikuti ujian tes tulis.

Hubungan pertemananku dengan teman-teman sekelas yang lain bisa dibilang berjalan biasa-biasa saja. Ya, bukan hidup namanya jika tidak berwarna bukan? Jika bertanya apakah ada konflik? Tentu jawabannya adalah “iya“. Lumayan banyak juga konflik yang terjadi, tapi aku sudah mengubur semua itu dalam-dalam dan tidak mau mengingatnya lagi. Aku memang banyak menghabiskan malam-malamku disana dengan air mata. Sampai tiap bangun tidur, aku mendapati sarung bantalku basah dan mataku sembab dan perih. Beruntung kacamata yang aku pakai menyamarkan mataku yang sembab. Tapi ada saja temanku yang matanya sangat jeli dan menyadari itu semua.

Semua konflik yang pernah terjadi itu, adalah guru yang sangat berharga yang pernah aku miliki. Aku belajar banyak. Tentang pertemanan, ketulusan, kejujuran, keberanian, prinsip, dan cinta. Banyak orang yang mengatakan masa-masa SMA adalah masa-masa paling menyenangkan, aku setuju. Dan aku akan menambahkan, masa-masa SMA adalah masa-masanya belajar. Sangat berbeda ketika SMP. Sangat berbeda.

Jangan mengira aku yang selalu sendiri dan sering menangis malam-malam ini tidak memiliki sahabat. Aku punya bebrapa teman baik yang sering menemaniku. Salah satunya teman sekamarku, selebihnya di kamar dan di kelas lain. Dan seorang sahatku di sekolah yang berbeda.

Setelah dipikir-pikir, mungkin ini yang mendasari banyaknya tulisan-tulisan kelabu yang aku buat dulu. Hampir seluruh isi diaryku isinya tidak jauh beda. Tapi tulisan usang itu sudah lenyap sekarang.

Aku tidak ingin hidupku seperti itu terus. Bahkan saat aku sudah pindah ke tasik sekalipun, aku belum menemukan perubahan yang berarti dari hidupku. Aku masih sering menulis hal-hal kelabu di blog lamaku yang juga sudah aku tutup. Aku masih sering menulis hal-hal yang menyedihkan. Aku tidak ingin itu terjadi lagi. Tidak ingin itu terulang lagi. Masa lalu yang penuh kelabu itu, biarlah aku kubur dalam-dalam. Aku tidak ingin mengingatnya lagi.

Allah memang maha penyayang, Allah memperlihatkan semuanya padaku dari segala sisi. Allah yang maha membolak-balikkan hati, telah mengubah semuanya. Hidupku, warna-warna yang aku lihat, suara-suara yang aku dengar, sudut pandangku, tak lagi seperti dulu. Ya, ketika aku mulai masuk kuliah, mungkin? Entah lah, aku juga tidak menyadari pastinya kapan. Tapi memang belum lama ini.

Mungkin ini kutipan yang sangat cocok untukku sekarang..

Dulu, kalau tidak disitu, kini dimana aku?

Kini, kalau tidak disini, kelak dimana aku?

Dulu, kalau tidak begitu, kini bagaimana aku?

Kini, kalau tidak begini, kelak bagaimana aku?

Cuma tahu dulu aku seperti itu

Cuma tahu kini aku seperti ini

Tanpa tahu kelak akan seperti apa aku