Sunday, 22 January 2017

Aku memanggilnya "La"

Entah kenapa mendadak aku ingin menulis ini.
Mungkin karena percakapan singkatku dengan seorang teman di grup belajarku tentangnya yang (dari SMA atau SMP ya?) hingga kini selalu bersama dengan sahabatnya. Sudah menjadi kehendak Allah mereka ditempatkan di tempat yang sama. Semoga mereka selalu bisa saling mengingatkan dalam kebaikan dan menyebarkan kebaikan dan mengingatkan orang lain dalam kebaikan juga.
Back to the main topic, karena bukan tentang mereka yang ingin aku tulis. hehe.

Tiba-tiba aku ingin menulis tentang sahabatku. 
Seorang anak perempuan yang aku kenal pada pertengahan tahun 2006 di sekolah baruku saat itu. 
Namanya Dila. Aku memanggilnya "La", begitu juga dia memanggilku.
Aku sudah lupa bagaimana dialog perkenalan kami saat pertama kali. Aku bahkan lupa siapa yang menyapa duluan. 
Tapi aku ingat, dia pernah bertanya padaku, "La, ke kan dari Bandung, kok namanya Aceh kali?"
Hahahaha. Lalu aku mulai menceritakan kepadanya tentang keluargaku yang terdiri dari berbagai suku. 
Aku juga masih ingat, jajanan wajib kami saat masih kelas 6 SD, Wafer stick st*cko rasa coklat/vanilla. 
Dila dan aku memiliki banyak perbedaan. Dia tomboy. Paling jago main kenci (aku bahkan tidak pernah bisa menendang benda itu satu kalipun-,-). Paling jago main karet. Dia bisa melompat sampai tingkat paling tinggi. Main kasti? Udah, nggak udah ditanya lagi. Haha. Dila juga sekretaris kelas, tulisannya rapi. Dan selalu jadi ketua kelompok (yg ini aku juga sih hehe)
Ya, bisa dibilang aku menghabiskan sebagian besar masa kelas 6 SDku bersamanya (selain teman-teman yang tinggal di dekat rumahku tentu saja)

Lalu saat SMP, aku dan Dila berada di kelas yang berbeda. Tapi itu bukan masalah, kami masih bisa jajan bareng saat istirahat dan belajar bersama (tapi yang ini jarang sih haha) kami lebih sering ke perpustaakn bersama untuk meminjam buku.......novel hahaha. 
Saat SMP, kami tidak hanya menghabiskan waktu bermain berdua. Ada Suha, Sherly, dan Kiki juga. Mereka berempat lah yang memberikan warna-warni di kehidupan SMPku. Sangat banyak yang kami lakukan bersama dan aku tidak berniat menceritakannya satu-persatu. Biarlah kenangan itu tersimpan di ingatan kami masing-masing :) 
Lalu saat SMA, kami terpisah. Dila sekolah di Banda Aceh. Jadi kami hanya bertemu saat liburan. Tapi komunikasi kami tetap terjaga, Alhamdulillah.

Hingga suatu hari, aku menelpon Dila untuk berpamitan. Aku dan keluargaku akan pindah lagi ke Bandung. Saat itu Dila sedang bersama Suha. Mereka terkejut, tentu saja, karena semuanya serba tiba-tiba. Kiki dan Sherly yang aku beri tahu setelahnya juga sama terkejutnya. Pun Rahmi (teman dekatku di SMA) dia juga sedih saat itu. Saat itu, kami masih menganggap jarak Aceh-Bandung sangat jauh (sekarang juga masih, tapi tidak sejauh itu hehe).

Sebelum aku pergi, tepat di pagi hari sebelum aku pergi, tanggal 3 Agustus 2011. Dila ke rumahku. Dia menyerahkan sebuah amplop putih kepadaku. Baru saja aku ingin membukanya, dia langsung menyambar amplop itu dan berkata "Dibukanya nanti aja pas ke udah sampe sana!" hahaha.
Aku menepati janjiku. Sesampainya di Bandung, aku membuka amplop itu. Isinya 2 lembar surat (tau nggak La? aku masih nangis kalo baca surat itu sampe sekarang. hahaha) dan sepasang manset warna putih. Itu adalah manset pertamanya. What a precious thing, she gave me her first manset. 
Pagi itu, pagi terakhir ya, La? Nggak kok, insyaAllah bukan pertemuan terakhir. Semoga nanti Allah memberi  kita kesempatan untuk bertemu lagi. Aamiin.

Tidak terasa, waktu cepat sekali berlalu. Satu persatu kami mulai menyelesaikan pendidikan kami. Aku jadi berharap kita dapat saling menghadiri prosesi wisuda nanti, La. Semoga ada waktu dan  rejekinya ya. hehe. Tapi pas ke wisuda bulan Agustus nanti aku lagi di stase Radiologi-Kulit-Anesthesi. Kenapa nggak wisuda pas aku lagi spacing aja hahaha.

Terlepas dari itu semua, aku percaya semua yang terjadi sepenuhnya adalah yang terbaik menurut Allah. Sejak awal Allah mempertemukan kami, aku juga percaya bahwa itu bukanlah sebuah kebetulan. Dan hingga aku benar-benar menganggapnya sebagai sahabat, pun begitu dengannya, aku percaya bahwa hanya Allah yang menjaga ukhuwah ini, sampai kapanpun, hingga nanti di syurga-Nya, aamiin.

Meski aku sering sedih juga melihat orang yang bisa kemana-mana, menghabiskan waktu, dan melakukan apapun bersama sahabatnya. Sementara yang bisa aku lakukan disini adalah mendoakan yang terbaik untuk sahabatku yang jauh disana. 

Jangan pernah bosen ngingetin aku ya, La. Semoga ke nggak capek dengerin semua curhatan aku (yang keseringan sih nggak penting-penting amat hahaha). Semoga ke nggak bosen-bosen juga untuk saling doain, semoga kita bisa sukses dunia-akhirat. Aamiin.


Bandung, 22 Januari 2017


Btw, masih inget foto ini? hahaha
(foto 8 tahun yang lalu)

Saturday, 14 January 2017

untukmu, yang sedang mencari siapa dirimu.



Ini adalah salah satu tema favoritku. Sekitar 9 atau 10 tahun yang lalu, aku pernah membaca sebuah teenlit yang menceritakan kisah dua anak perempuan yang memiliki nama yang mirip, hanya terpaut huruf 'h’. Nama yang mirip, namu kepribadian yang sangat bertolak belakang. Saat itu aku langsung membayangkan mereka berdua memiliki kepribadian masing-masing melankolis-plegmatis dan sanguinis-koleris. Ya, setidaknya itulah yang dapat aku simpulkan tentang watak mereka di dalam teenlit tersebut.

Ada sebuah kalimat di teenlit itu yang sampai sekarang masih aku ingat, “Kamu, ya kamu. Dia, ya dia. Kamu nggak bisa disamakan dengan dia. Begitupun dia, nggak bisa disamakan dengan kamu. Kamu yang seperti ini, kamu yang ceria, kamu yang lucu, kamu yang cerewet, kamu yang peduli, ini adalah kamu. Kamu yang unik. Inilah yang membuatmu menjadi kamu yang selama ini aku kenal sebagai kamu’’.

Jujur saja, aku sedikit tertegun ketika membacanya. Kemudian aku berpikir, bagaimana orang lain melihatku sebagai aku? Aku tidak berani menerka-nerka. Saat itu aku belum memahami apa yang dimaksud dengan menjadi diri sendiri. Apakah maksudnya adalah melakukan sesuatu yang disenangi orang lain dengan masih bersikap sebagai diri sendiri? Ataukah melakukan hal yang bisa membuat orang menyenangi kita dan pada akhirnya kita punya banyak teman? Bahkan hingga detik ini, aku masih belum mendapatkan jawaban yang pasti mengenai hal ini.

Sempat aku mencoba untuk mendiskusikan hal ini dengan seorang temanku, tapi kelihatannya dia pun sama kebingungannya juga denganku. Akhirnya aku mencoba untuk menyimpan saja pertanyaan ini, siapa tahu aku akan menemukan jawabannya suatu hari nanti.

Setelah sekian lama pertanyaan itu terkubur dalam memoriku, beberapa waktu lalu aku mendapatkan sebuah pernyataan yang menyinggungnya dan pertanyaan itu muncul kembali. Seorang temanku meminta pendapatku mengenai sikap apa yang harus dia ambil. Dia mendapat nasehat dari seorang temannya yang lain untuk melakukan apa yang orang lain suka agar dia tidak mendapat masalah dan dia juga bisa mendapat banyak teman karenanya. Dia juga mendapat nasehat dari temannya itu untuk tidak melawan, lakukan saja apa yang orang lain suka, dengan begitu tidak akan ada lagi yang akan membicarakannya di belakang karena dia tidak melakukan hal yang ‘berbeda’ lagi.

Curhatan temanku yang satu ini, jujur saja, membuatku tertegun. Aku sempat bertanya-tanya kira-kira siapa temannya yang menyarankan ini? Tapi aku urung menanyakannya karena aku pikir hal itu tidak penting dan bukan urusanku untuk mengetahui siapa orangnya. Yang menarik perhatianku adalah sarannya ini. Persis seperti pertanyaanku 9 atau 10 tahun yang lalu. Perlukah kita melakukan semua itu hanya agar disukai banyak orang atau setidaknya agar terhindar dari gunjingan orang? Aku masih meragukannya. Oke, aku mulai memikirkan nama-nama orang yang mungkin bisa aku ajak berdiskusi mengenai hal ini.

Sebenarnya, hal ini sangat sering terjadi. Bahkan setiap hari. Setiap pagi, ketika akan berangkat ke kampus, kamu membuka lemarimu, melihat-lihat baju mana yang akan kamu kenakan hari ini. Kemeja yang mana, kerudung yang mana, polos atau bermotif, rok yang mana, bros mana yang kamu rasa match dengan kerudung dan bajumu, kaos kaki, sepatu yang mana, tas bahu atau tas punggung. Semua itu, semua keputusan itu, atas dasar apa? Apakah karena kamu memang menyukai style itu? Atau karena kamu ingin dilihat rapi dan match? Atau kamu ingin orang lain melihatmu seperti itu? Bercerminlah sekali lagi, apakah penampilan itu sudah menggambarkan bagaimana dirimu yang sesungguhnya?

Sama halnya jika kamu belajar. Apakah kamu belajar karena perintah Allah untuk menuntut ilmu? Apakah kamu belajar karena kamu memang ingin tahu? Apakah kamu belajar karena kamu mersa ilmu yang kamu punya masih sangat sedikit, sehingga kamu merasa butuh belajar? Atau kamu belajar karena ingin terlihat rajin? Jawabannya ada pada dirimu sendiri.

Aku memang belum menemukan jawaban pastinya, aku juga belum sepenuhnya memahami. Selama ini, aku bahkan tidak yakin apakan kau telah sepenuhnya menjadi diriku sendiri atau belum. Sebagai penutup, aku ingin mencantumkan sebuah quote yang entah bagaimana bisa ada di kepalaku saat ini.

“Kamu tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk mendapatkan perhatian dari segelintir orang yang awalnya kamu kira mereka akan menjadi temanmu untuk selamanya. Jadilah dirimu sendiri. Lakukankah apa yang membuatmu merasa nyaman. Lakukankah apa yang membuatmu akan terlihat seperti ‘kamu‘ apa adanya. Lakukanlah apa yang mencerminkan dirimu. Tanpa dibuat-buat.“