Senin, 5 September 2016
“Mala mau pulang ga minggu ini?”
“Mau, Teu. insyaAllah. Kan seninnya lebaran. Ateu pulang juga?”
“iya, mau juga. Mau main ke sekolah. Kamu sabtu libur ga kuliah?”
“libur. Mau pulang hari jum’at?”
“duh gimana ya hari jum’at aku kuliah sampe sore. Kemaleman gak ya?”
“gapapa kok, aku juga sering pulang sore, sampe rumah abis isya hehe.”
“okedeh, nanti kabarin lagi yaaa”
“okey”
Jum’at, 9 September 2016
Jadwal kuliahku baru selesai pukul 14.00 WIB karena ada pergeseran jadwal tutorial. Belum juga meninggalkan Bagian Ilmu Penyakit Dalam, aku menerima sebuah pesan, “Mala, nanti jam 6 ya langsung ketemu di terminal aja. Aku baru selesai kuliah jam 5an kayaknya.”
“okey Ateu” aku membalas pesan dan langsung menuju kost.
‘Jam 6. Dari sini jam 4.45 masih keburu insyaAllah. Masih ada 2 jam lagi sebelum siap-siap, istirahat dulu ah sebentar’
Niat istirahat sebentar yang berujung ketiduran…… dan aku terbangun karena getaran handphone yang aku letakkan persis di samping bantal. ‘hm? Ateu nelpon ada apa?’
“hmm..halo…” masih somnolent
“halo, Malaaaaa. Aku gak ada kuliah jam terakhir. Kita pulang sekarang yuk!”
“hah…?” masih aja somnolent
“Aku gak ada kuliah jam terakhir. Dosennya nggak datang. Pulang sekarang yuk, aku mau otw ke terminal”
“eh? Eh? Sekarang? Sekarang jam berapa?” Baru sadar 100% a.k.a compos mentis
“jam tigaa. yaudah ya, aku otw”
“iya iyaaa bentar aku siap-siap”
Kurang dari 15 menit,aku siap dan berhasil tiba di terminal pukul 16.15.
Di terminal. Aku tidak menemukan Ateu. ‘dimana dia nunggunya?’ lalu aku telepon, menanyakan lokasi, sedikit muter-muter terminal nyari tempat nunggunya dimana (ceritanya memang baru pertama kalinya ke terminal ini) dan kami akhirnya bertemu. Huft.
Baiklah kami tinggal menunggu bus yang akan kami tumpangi. Lama. I say it took a long time, it really was. bus yang akan kami tumpangi terjebak macet di suatu tempat dan butuh waktu kira-kira 90 menit untuk sampai ke terminal. O-oke...
17.40 WIB, kami berangkat. Kali ini aku tidak khawatir perjalanan malam karena aku tidak sendirian. Biasanya paling telat aku pulang sekitar pukul 16.00 dan sampai rumah pukul 19.00, itu juga mamah meneleponku berkali-kali menanyakan aku sudah sampai mana. Ini jam 17.40 baru jalan, perkiraanku paling cepat sampai rumah pukul 21.30. dan benar saja.
Samapi di rumah, Mamah ternyata sudah menyiapkan makan malam untuk kami karena mengira kami akan tiba di rumah sekitar pukul 19.00 atau 20.00. Kami tetap makan malam (bye, makan jam sepuluh malam pake rendang) Selesai makan, kami bertiga ngobrol. Aku sudah mulai ngantuk di tengah obrolan, sampai tiba-tiba…
“eh? Kok alarm Mamah udah bunyi? Jam berapa ini?”
“jam setengah dua, Mah..” aku melihat jam di handphoneku.
“Ya Allah, udah kalian tidur sana, besok mau main kemana?”
“Mau ke sekolah aja Mah, mau main ke lab, kangen udah lama nggak ke lab…”
“oh, yaudah, kalo gitu, langsung tidur ya”
“iya Mah..”
Sabtu, 10 September 2016
Paginya, pukul 07.00 WIB, kami berdua sudah bersiap-siap pergi.
“kok pagi banget? Kayak anak sekolah aja.”
“hehehe biar bisa agak lama di lab Mah…”
“yaudah gih sarapan dulu ya baru berangkat.”
“iya Mah~”
Selesai sarapan, kami berangkat. Di jalan, Ateu menghubungi Pak Arif apakah beliau ada di sekolah atau tidak. Alhamdulillah ada.
Begitu sampai gerbang sekolah, kami langsung masuk dan berniat langsung menuju lab. Di dekat ruang guru, kami tidak sengaja bertemu beberapa guru yang dulu dekat juga dengan kami; ibu Susi, ibu Lina, ibu Yuda, ibu Dedeh dan Frau Dewi. dan kami berbincang sebentar. Terharu rasanya, beliau-beliau masih mengingatku padahal statusku di sekolah ini adalah murid baru pada tahun 2011.
Begitu sampai gerbang sekolah, kami langsung masuk dan berniat langsung menuju lab. Di dekat ruang guru, kami tidak sengaja bertemu beberapa guru yang dulu dekat juga dengan kami; ibu Susi, ibu Lina, ibu Yuda, ibu Dedeh dan Frau Dewi. dan kami berbincang sebentar. Terharu rasanya, beliau-beliau masih mengingatku padahal statusku di sekolah ini adalah murid baru pada tahun 2011.
“Abis ini pada mau kemana?”
“Mau ke lab, bu. Hehe”
“oh, iya Keumala mah dulu di lab terus ya sama anak-anak kimia yang lain”
“hehehe iya, bu..”
“Sok atuh, lagi ada Pak Harry juga di lab”
“iya, bu, Mala sama Nur ke lab dulu ya bu”
“iya, sok.. sing sukses ya”
“aamiin, nuhun ibu, assalamu’alaikum”
“wa’alaikumsalam”
Di depan pintu lab…
“kayaknya lagi ngajar ya?”
“iya, pintu labnya ditutup. Masih belajar kali ya. Sampe jam berapa sih biasanya?”
“gatau lupa hehe. Tungguin aja paling bentar lagi”
“eh Pak Arif dimana?”
“di meja piket katanya”
“meja piket dimana?”
“di depan kan?”
“tadi perasaan pas lewat meja piket gak ada Pak Arif”
“coba tanya lagi”
“belum dibales”
“yaudah nunggu disini aja lah ya semoga udah mau selesai kelas kimianya”
“he eh”
Tidak sampia 5 menit, pintu lab terbuka dan keluarlah puluhan murid-entah-kelas-berapa dari dalam lab.
“Masuk yuk”
“Yuk”
“Assalamu’alaikum, Bapak..”
“Eeeh bu dokter, bu guru. Lagi libur?”
“Iya Pak, kan mau lebaran. Hehe. Bapak gimana kabarnya, Pak?”
“Aku lagi sakit. Nih.” Pak Harry menjulurkan kedua tangannya dan menunjuk kedua kakinya.
Deg. Begitu melihatnya aku terdiam beberapa detik. ‘edema di extremities? Keliatannya non-pitting’ semua DDx yang bisa aku pikirkan langsung muncul di kepalaku.
“Ini kenapa nih coba? Gejala ini namanya apa?”
“Edema.”
“Yap. Coba kemungkinan penyebabnya apa aja? Aku mau ngetes. Udah belajar penyakit dalam kan? hehe”
Aku pun melakukan anamnesis terhadap Pak Harry. Setengah tidak percaya, aku yang baru saja memasuki minggu ketiga di semester 7 melakukan anamnesis lagsung. Tapi yang membuatku mencelos adalah saat ini aku melakukannya terhadap guruku sendiri…. Aku tidak melakukan pemeriksaan fisik, karena aku belum boleh melakukannya tanpa pengawasan dokter. Jadi hanya anamnesis. Masih ada beberapa hypothesis yang aku pikirkan, sampai pada akhirnya beliau memberitahukan hasil lab, MRI dan CT-scan yang telah dilakukan, dan salah satunya merupakan mnemonic dari suatu diagnosis.
“Coba sekarang, aku sakit apa?”
Aku menyebutkan sebuah diagnosis dan beliau tersenyum puas sambil mengangguk.
Hari itu, aku dan Ateu menghabiskan waktu lumayan lama di sekolah, ya tentu saja sebagian besarnya di lab. Kami juga bertemu Intang dan Endah yang sedang PPL. Semua berjalan seperti biasa. Tidak ada yang aneh. Tidak ada.
It’s been a long time, Sir. Sebelum ini, terakhir kali bertemu Pak Harry 2 tahun lalu pada Pelantikan Kimia Club tahun 2014. Aku masih tingkat 2 saat itu.
Senin, 24 Oktober 2016
Di ruang skills lab. 14.18 WIB
‘siapa yang nelepon jam segini?’
‘ateu nelepon ada apa? Nanti aja deh telpon balik abis kelas skills’
15.00 WIB
Begitu selesai kelas skills lab, masih di dalam ruangan belum beresin barang-barang, langsung cek handphone. Ternyata Ateu nggak Cuma nelpon, tapi nge-chat juga.
“Mala, Pak Harry meninggal ya? Katanya di Bandung. Mala tau gak dimana?”
Seketika aku terdiam.
‘berita bercanda macam apa ini?’ *denial-phase.
Beberapa saat aku masih terdiam. Kaget? Nggak percaya? Iya semuanya campur aduk. Bahkan aku tidak mendengar ketika salah seorang teman memanggil.
“La? Mala?”
Setelah beberapa kali, “Eh? Iya Can? Ada apa?”
“Mau langsung pulang gak, La? Aku mau ke biofarma. Mau nemenin aku nggak La?”
Aku yang masih belum bisa fokus tidak menjawab apa-apa. Masih dalam denial-phase.
“La?”
“Eh? Iya Can tadi bilang apa? Maaf Can..”
“Mala mau langsung pulang?”
“Iya Can”
“Mau nemenin aku ke biofarma gak La?”
“Ngapain Can?”
“Mau beli obat.”
“Boleh Can, tapi bentar dulu ya..”
Aku masih memandangi layar handphoneku. Membaca ulang chat dari Ateu. Masih tidak percaya juga. Ini bohong.
“Mala kenapa?”
“Aku bar dapet kabar guru kimia aku pas SMA meninggal Can…”
“Innalillahi wainnailaihi roji’un”
Melihatku yang belum juga beranjak, masih mematung, “La, kalo gitu aku duluan aja ya..”
“Eh, gapapa Can?”
“Iya gapapa La.. dadah Mala, assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam..”
Aku masih belum beranjak. Akhirnya aku menelpon Ateu.
“Halo, Mala?”
“Bohong”
“Hah?”
“Ateu bohong, kan?”
“Nggak, Mala. Aku dikasih tau sama bu Dewi..”
“…”
“Mala mau kesana nggak? Katanya di RS Santosa”
“…”
“Mala?”
“Jam berapa?”
“Apanya?”
“Pak Harry. Meninggalnya jam berapa?”
“Jam 1 siang tadi kalo kata bu Dewi”
“Mau kesana…”
“Yuk, aku juga mau kesana. Mau kapan? Besok rombongan guru dari sekolah mau kesana. Mau bareng aja gak?”
“Besok jam berapa?”
“Jam 2 siang katanya”
“Aku masih ada skills lab jam segitu, paling aku nyusul sore.”
“Aku juga masih kuliah. Okedeh kita nyusul sore ya”
“Iya, besok kabarin lagi ya”
“Iya, sip.”
Aku terduduk. Masih setengah tidak percaya. Lalu aku teringat, ‘Pak Arif. Pak Arif pasti tau’. Kemudian aku menelpon Pak Arif. Aku mulai tidak bisa mengendalikan emosi. Menangis tanpa suara.
“Assalamu’alaikum” suaraku mulai bergetar.
“Wa’alaikumsalam”
“Pak, ini bohong kan?”, fix suaraku serak. Jangan sesenggukan, plis. Ini masih di kelas skills lab.
“Apa atuh yang bohong teh?”
Aku mulai tidak bisa menahan lagi, suaraku ulai terbata-bata, “Masa tadi Ateu ngasih tau katanya Pak Harry meninggal”
“Sumuhun..”
“Bohong kan, Pak?”
“Nggak, Mala..”
“…” makin banjir. Mulai sesenggukan. Bye, Mala. Untung ruang skills lab udah kosong.
“Udah, jangan nangis lagi. Kita doakan saja yang terbaik buat almarhum. Meski almarhum berbeda dengan kita, tapi semoga diberikan yang terbaik..”
“…” masih belum bisa ngomong apa-apa
“udah, udah.. besok saya mau kesana bareng sama guru-guru yang lain. Dari sini jam 10an insyaAllah, sampe sana jam 2an”
“Bapak, besok Mala ada lab, nanti abis Lab Mala mau nyusul, bapak kabarinya Pak..”
“Iya.. sok, sekarang mah tenang heula”
“Iya Pak.. makasih ya Pak.. Assalamu’alaikum”
“wa’alaikumsalam”
Ketika akan membereskan barang-barang, aku melihat semua barang-barangku sudah rapi di dalam tas. Jas labku juga sudah terlipat rapi di tempatnya di dalam tas. ‘pasti ncan tadi…’
Sampai kost, aku langsung menghubungi Wildan.
“Dan, Pak Harry meniggal...”
“Iya Mal. Nyesel aku ga sempet ketemu dulu. Sedih. Padahal bu Tien udah bilang suruh ketemu dulu.”
Lalu kami membicarakan semua kenangan bersama almarhum. Setiap hari sepulang sekolah selalu nongkrong di lab, kalau belum magrib atau belum diingetin pulang ya nggak pulang, main aja di lab. Setiap jum’at saat jadwal Kimia Club, pasti jadi yang paling terakhir pulang. Project kertas-kayu, sampai jam 12 malam di lab ngerjain proposal, di hari berikutnya sampai jam 11 malam dekorasi stand di kantor walikota. Saat lomba CFD, pulang dari Nangor ke Bandung dulu,main. Cari tempat kuliner. Jalan-jalan, nonton midnight untuk pertama (dan terakhir) kalinya berlima (aku, Awal, Wildan, a Hanhan, dan pastinya Pak Harry) di PVJ. Pelantikan Kimia Club. Setiap kali belajar Kimia di lab. Dan masih banyak lagi. Sangat banyak. Aku tidak mau menuliskan semuanya karena saat ini saja aku sudah merasa tidak sanggup menulis lagi…
“Btw rencananya aku abis magrib sama a Hanhan mau ke rumah duka. Barusan a Hanhan nge-chat.”
“Apa aku bareng kalian aja ya?”
“Ayo aja Mal kalo mau, biar sekalian”
“Boleh Dan..”
“Gimana? Mau hari ini?”
“Aku ikut kalian aja Dan, hari ini juga boleh”
“Disitu hujan ga mal? Bisa nitip motor ga aku?”
“Udah nggak Dan. Bisa..”
“Kalo bisa, aku pake motor kesitu terus kita naik taksi dulu ke Cihampelas ketemuan sama a Hanhan. Gimana?”
“a Hanhan dimana?”
“a Hanhan lagi otw dari Jakarta”
“omg….”
“Iya Mal, ada travel xtrans. Ata mau langsung ketemu di xtrans aja?”
“Boleh juga kayak gitu, langsung ketemu di xtrans terus nunggu a Hanhan disana ya. A Hanhan katanya sampe bandung jam berapa?”
“okedeh, lansung ketemu di xtrans aja ya? Kurang lebih 45 menitan lagi kalo lancar Mal”
“okedeh. Nanti kabarin ya kalo berangkat”
“Sip”
Aku mengajak Ateu juga, awalnya dia sempat ragu tapi akhirnya ikut juga. Akhirnya kami berlima (a Hanhan datang bersama salah seorang teman Pak Harry dari Asosiasi Guru Kimia Indonesia) bertemu di xtrans. Lalu kami langsung menuju ke rumah duka.
Begitu memasuki ruangan, kami langsung dihadapkan dengan peti dan foto Pak Harry yang terpajang diantara dua lilin dan sebuah salib di samping kiri fotonya. Kami juga bertemu dengan kakak perempuan Pak Harry. Beliau bercerita banyak tentang Pak Harry. Dari masa kecilnya, studynya, bagaimana perjuangan Pak Harry yang tidak pernah kenal lelah. Seorang yang idealis. Sangat idealis. Teguh pada prinsip. Saat itu aku baru tahu bagaimana perjuangan Pak Harry.
Sekarang aku mengerti. Aku pernah membaca sebuah tulisan seorang teman tentang bagaimana ia ingin dirinya diingat saat ia telah tiada. Bagaimana ia ingin anak cucunya dan orang-orang lain yang mengenalnya dengan baik mengenang kepergiannya, dan apa yang akan mereka ucapkan pada pidato di hari pemakaman. Sekarang aku mengerti. Karena Pak Harry akan selalu terkenang oleh anak-anaknya sebagai seorang guru, teman, sahabat, dan bapak yang hebat. Terhebat.
“Nothing worth having comes easy”
“Belajar itu biar kamu ngerti, sampai kamu ngerti. That’s why study is not enough. You have to LEARN.”
Dan pada akhirnya aku tidak bisa mengatakan apa-apa selain ‘terima kasih, Pak. Untuk semuanya.’
Rest in peace, our beloved teacher.



