This is the day! Hari keberangkatan KKNM Unpad 2016 akhirnya tiba. Ya, hari ini tanggal 20 Juli 2016. Seluruh peserta KKNM Unpad 2016 harus berkumpul pada pukul 05.30 di halaman gedung PPBS Unpad Jatinangor. Jam 05.30, gengs! Dan posisiku saat ini adalah di Bandung. Ada travel yang akan menjemput kami di Bandung tepat pukul 05.00 di dekat Eijkman yang kebetulan berdekatan juga dengan kost-ku yang baru. Tapi travel yang menjemput kami terlambat dan akhirnya aku dan teman-temanku baru tiba di Jatinangor 06.40 dan itu berarti kami terlambat mengikuti Upcara pelepasan.
Begitu sampai di gedung PPBS, aku dan Hayati (kami berdua satu desa di KKNM nanti) langsung menuju lokasi
dimana bis 33 berada, yang menurut keterangan teman-teman di grup, bis yang akan kami tumpangi berada di antara gedung FEB dan FIKOM. Jadi aku dan Hayati langsung berjalan dari tempat kami turun (di lapangan parkir Bale Santika) ke lokasi tempat bis 33 berada.
“Kalo di antara FEB sama FIKOM, lewat belakang atau depan ya, Hay?”
“FEB dimana?”
“di deket gedung pasca sarjana FIKOM, Hay, kalo kata Hanna.”
“oh.. lewat belakang aja kali ya?”
“boleh deh, coba dulu yuk.”
“yuk.”
Akhirnya kami berdua berjalan melewati belakang gedung bale santika hingga tiba di bagian depan gedung pasca sarjana FIKOM. Sesampainya disana….
“Hay, kok sepi ya?”
“Iya, kok ga ada bisnya ya? Ini gedung pasca sarjana FIKOM kan?”
“Iya, ini gedung pasca sarjana FIKOM…..”
“Terus bisnya dimana?.....”
Sudah bisa ditebak bagaimana wajah kebingungan kami saat itu. Akhirnya kami melihat seorang ibu-ibu, dan bertanya apakah beliau tahu dimana bis yang akan berangkat KKN, dan ternyata kami berjalan ke arah yang berlawanan dengan arah yang seharusnya.
“Kalo mau ke bisnya lewat sini aja, Neng.”
Beliau menunjukan sebuah jalan yang ternyata adalah tangga yang sangat tinggi. Aku dan Hayati saling melihat dengan tatapan “yakin mau lewat tangga yang tinggi itu dengan ransel dan koper yang berat ini?”
Akhirnya kami memutusnkan untuk mencari jalan yang lain.
Saat sedang berjalan, kami bertemu dengan seorang satpam dan memberi tahu kami salah arah. Beliau menunjuk jalan yang sama dengan yang ditunjuk oleh ibu-ibu tadi.
“Tapi kami nggak kuat bawa kopernya naik tangga itu, Pak. Hehe.”
“Oh, yaudah nggak apa-apa, sini saya bantu”
Alhamdulillaaah…
Bapak yang tadi membawa kedua koper kami bergantian. Pertama beliau naik membawa koper Hayati kemudian turun kembali dan membawa koperku. Tidak tahu bagaimana nasib kami kalua tidak ada Pak Satpam tadi. Makasih, pak.
Sesampainya di atas, kami melihat deretan bis yang sudah berjejer sangat panjang dan langsung mencari bis nomor 33. Ketemu. Salah seorang petugas membantu kami memasukakan koper kami ke dalam bis dan kemudian kami ikut masuk dan duduk di tempat yang masih kosong. Alhamdulillah, tempat yang masih kosong itu di bagian depan. (ifyouknowwhatImean)
Tidak lama kemudian, upacara pelepasan selesai. Para peserta upacara mulai menuju bis masing-masing. Biasa, hal paling mainstream yang dilakukan sebelum berangkat, foto-foto full team kelompok KKNM bersama dengan dosen pembimbing lapangan (DPL). DPL untuk desa Dukuh adalah Prof. Dr. Efa Laela Fakhriah, SH., MH dari fakultas Hukum Unpad.
Setelah berfoto, kami kembali lagi ke dalam bis, dan bersiap berangkat menuju tempat yang akan kami tinggali selama satu bulan kedepan. Perjalanan ke desa Dukuh, kecamatan Ciasem, kabupaten Subang memerlukan waktu sekitar 4 jam dengan bis besar. Sesampainya disana, bis yang kami tumpangi berhenti di jalur pantura yang berdekatan dengan jalan masuk ke desa Dukuh. Untuk sampai ke desa dukuh, masih harus menempuh jarak sekitar 5 atau 6 kilometer lagi. Mustahil untuk jalan kaki dengan barang bawaan sebanyak itu. Akhirnya kami menyewa sebuah mobil pick-up yang akan mengangkut kami dan seluruh barang bawaan kami. Tidak cukup satu kali angkut, karena banyaknya barang-barang ditambah dengan dua puluh orang seluruh anggota kelompok KKN, jadi mobil pick-up itu harus bolak-balik menjemput kami.
Jalan yang harus ditempuh untuk sampai ke desa Dukuh dapat dikatakan kurang baik. sebagian besar jalannya masih berupa tanah dan bebatuan yang lumayan besar. Bisa diperkirakan jika hujan deras atau saat sedang musim hujan, jalanan akan becek atau bahkan banjir. Dan saat musim kemarau, jalanan akan kering dan berdebu. Sepanjang perjalanan ke desa Dukuh, kita dapat melihat sawah yang membentang sangat luas. Ya, karena berdasarkan informasi yang aku dapat, mata pencaharian utama masyarakat di desa Dukuh adalah petani.
Oh iya aku belum menyebutkan anggota kelompok KKNM-ku. Kedua puluh orang itu adalah
Rahmawati Putri S
Sabrina Nur Fhadillah
Riyani Satriyanti Saputri
Keumala Hayati
Hayati Syarifah
Hanny Mardiah Utami
Nur Ismah Gitasari
Azka Dani Ramadhan
Haswidi Adrian W
Choerina Badriyah
Gustavito Eka Saputra
Erika Novitasari
Gregorius Pandu Indra N
Virgiawan Anfa Septian
Andras Recki P
Hilman Saiful Islam
Nielam Vioni
Hanna Maryam
Jonathan Jason Filbert
Agung Eko Kurniawan
"Alhamdulillah akhirnya sampai!"
Sangat lega rasanya sudah sampai di rumah yang akan menjadi rumah kami selama satu bulan kedepan. Rumahnya cukup luas dan nyaman. Rumah ini memiliki halaman belakang yang luas dan dibelakangnya lagi terdapat sawah yang luas. Tepat di depan rumah ada penjual jus dan minuman lain, selang beberapa rumah ada penjual nasi uduk setiap pagi, dan ada beberapa warung lain. Warga desanya juga ramah dan menyambut kami dengan baik. Alhamdulillah, Allah selalu memberi kemudahan. Begitu tiba di rumah, kami hanya meletakkan koper, duduk istirahat sebentar, menyapa tetangga sekitar rumah, kemudian langsung menuju kantor kepala desa. Jarak dari rumah ke kantor kepala desa lumayan juga, sekitar 1,5 kilometer.
Di kantor kepala desa, kami disambut langsung oleh kepala desa Dukuh dan aparat desa yang lain. Kami berkumpul di aula balai desa, dan mendengarkan sambutan dari bapak kepala desa dan Prof. Efa selaku DPL kami.
Seperti keterangan yang kami dapat dari berbagai sumber, desa Dukuh sangat panas! Bahkan saat mendung. Cuaca khas kawasan yang dekat dengan pantai. Aku sangat mudah berkeringat disini. Tidak sampai 5 menit setelah mandi, aku sudah dapat merasakan keringatku mulai keluar.
Hari pertama disini, kami habiskan dengan membersihkan rumah; menyapu, mengepel, memasang tambang jemuran, memasang spanduk KKNM kelompok kami di depan rumah, membereskan koper masing-masing dan istirahat. Tidak lupa kami menyapa tetangga di sekitar rumah dan anak-anak yang bermain disana.
Malam harinya, kami semua berkumpul di ruang belakang untuk briefing. Ada beberapa hal yang dibahas dalam briefing terkait rencana program apa yang akan kami lakukan disini dan juga bagaimana kami harus bersikap selama tinggal di rumah ini dengan masyarakat sekitar rumah. Setelah briefing selesai, teman-teman sie. Konsumsi menyiapkan makan malam, nasi goreng. Dan malam ini, kami mengistirahatkan badan kami yang lelah dan bersiap untuk esok hari yang mungkin akan melelahkan juga.
Ya Allah, jadikanlah seluruh kegiatan kami selama satu bulan ini sebagai ibadah kami kepadaMu..
Dukuh, 20 Juli 2016
yuk, lanjut ke hari #2, disini :)
Begitu sampai di gedung PPBS, aku dan Hayati (kami berdua satu desa di KKNM nanti) langsung menuju lokasi
dimana bis 33 berada, yang menurut keterangan teman-teman di grup, bis yang akan kami tumpangi berada di antara gedung FEB dan FIKOM. Jadi aku dan Hayati langsung berjalan dari tempat kami turun (di lapangan parkir Bale Santika) ke lokasi tempat bis 33 berada.
“Kalo di antara FEB sama FIKOM, lewat belakang atau depan ya, Hay?”
“FEB dimana?”
“di deket gedung pasca sarjana FIKOM, Hay, kalo kata Hanna.”
“oh.. lewat belakang aja kali ya?”
“boleh deh, coba dulu yuk.”
“yuk.”
Akhirnya kami berdua berjalan melewati belakang gedung bale santika hingga tiba di bagian depan gedung pasca sarjana FIKOM. Sesampainya disana….
“Hay, kok sepi ya?”
“Iya, kok ga ada bisnya ya? Ini gedung pasca sarjana FIKOM kan?”
“Iya, ini gedung pasca sarjana FIKOM…..”
“Terus bisnya dimana?.....”
Sudah bisa ditebak bagaimana wajah kebingungan kami saat itu. Akhirnya kami melihat seorang ibu-ibu, dan bertanya apakah beliau tahu dimana bis yang akan berangkat KKN, dan ternyata kami berjalan ke arah yang berlawanan dengan arah yang seharusnya.
“Kalo mau ke bisnya lewat sini aja, Neng.”
Beliau menunjukan sebuah jalan yang ternyata adalah tangga yang sangat tinggi. Aku dan Hayati saling melihat dengan tatapan “yakin mau lewat tangga yang tinggi itu dengan ransel dan koper yang berat ini?”
Akhirnya kami memutusnkan untuk mencari jalan yang lain.
Saat sedang berjalan, kami bertemu dengan seorang satpam dan memberi tahu kami salah arah. Beliau menunjuk jalan yang sama dengan yang ditunjuk oleh ibu-ibu tadi.
“Tapi kami nggak kuat bawa kopernya naik tangga itu, Pak. Hehe.”
“Oh, yaudah nggak apa-apa, sini saya bantu”
Alhamdulillaaah…
Bapak yang tadi membawa kedua koper kami bergantian. Pertama beliau naik membawa koper Hayati kemudian turun kembali dan membawa koperku. Tidak tahu bagaimana nasib kami kalua tidak ada Pak Satpam tadi. Makasih, pak.
Sesampainya di atas, kami melihat deretan bis yang sudah berjejer sangat panjang dan langsung mencari bis nomor 33. Ketemu. Salah seorang petugas membantu kami memasukakan koper kami ke dalam bis dan kemudian kami ikut masuk dan duduk di tempat yang masih kosong. Alhamdulillah, tempat yang masih kosong itu di bagian depan. (ifyouknowwhatImean)
Tidak lama kemudian, upacara pelepasan selesai. Para peserta upacara mulai menuju bis masing-masing. Biasa, hal paling mainstream yang dilakukan sebelum berangkat, foto-foto full team kelompok KKNM bersama dengan dosen pembimbing lapangan (DPL). DPL untuk desa Dukuh adalah Prof. Dr. Efa Laela Fakhriah, SH., MH dari fakultas Hukum Unpad.
Kelompok KKNM Unpad 2016, Desa Dukuh, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang
Setelah berfoto, kami kembali lagi ke dalam bis, dan bersiap berangkat menuju tempat yang akan kami tinggali selama satu bulan kedepan. Perjalanan ke desa Dukuh, kecamatan Ciasem, kabupaten Subang memerlukan waktu sekitar 4 jam dengan bis besar. Sesampainya disana, bis yang kami tumpangi berhenti di jalur pantura yang berdekatan dengan jalan masuk ke desa Dukuh. Untuk sampai ke desa dukuh, masih harus menempuh jarak sekitar 5 atau 6 kilometer lagi. Mustahil untuk jalan kaki dengan barang bawaan sebanyak itu. Akhirnya kami menyewa sebuah mobil pick-up yang akan mengangkut kami dan seluruh barang bawaan kami. Tidak cukup satu kali angkut, karena banyaknya barang-barang ditambah dengan dua puluh orang seluruh anggota kelompok KKN, jadi mobil pick-up itu harus bolak-balik menjemput kami.
Jalan yang harus ditempuh untuk sampai ke desa Dukuh dapat dikatakan kurang baik. sebagian besar jalannya masih berupa tanah dan bebatuan yang lumayan besar. Bisa diperkirakan jika hujan deras atau saat sedang musim hujan, jalanan akan becek atau bahkan banjir. Dan saat musim kemarau, jalanan akan kering dan berdebu. Sepanjang perjalanan ke desa Dukuh, kita dapat melihat sawah yang membentang sangat luas. Ya, karena berdasarkan informasi yang aku dapat, mata pencaharian utama masyarakat di desa Dukuh adalah petani.
jalan menuju desa Dukuh diambil dari atas mobil pick-up (dengan resolusi yang kurang baik dan goncangan sepanjang perjalanan, jadilah foto blur ini)
sebagian kecil sawah yang kami lewati sepanjang jalan
Oh iya aku belum menyebutkan anggota kelompok KKNM-ku. Kedua puluh orang itu adalah
Rahmawati Putri S
Sabrina Nur Fhadillah
Riyani Satriyanti Saputri
Keumala Hayati
Hayati Syarifah
Hanny Mardiah Utami
Nur Ismah Gitasari
Azka Dani Ramadhan
Haswidi Adrian W
Choerina Badriyah
Gustavito Eka Saputra
Erika Novitasari
Gregorius Pandu Indra N
Virgiawan Anfa Septian
Andras Recki P
Hilman Saiful Islam
Nielam Vioni
Hanna Maryam
Jonathan Jason Filbert
Agung Eko Kurniawan
"Alhamdulillah akhirnya sampai!"
Sangat lega rasanya sudah sampai di rumah yang akan menjadi rumah kami selama satu bulan kedepan. Rumahnya cukup luas dan nyaman. Rumah ini memiliki halaman belakang yang luas dan dibelakangnya lagi terdapat sawah yang luas. Tepat di depan rumah ada penjual jus dan minuman lain, selang beberapa rumah ada penjual nasi uduk setiap pagi, dan ada beberapa warung lain. Warga desanya juga ramah dan menyambut kami dengan baik. Alhamdulillah, Allah selalu memberi kemudahan. Begitu tiba di rumah, kami hanya meletakkan koper, duduk istirahat sebentar, menyapa tetangga sekitar rumah, kemudian langsung menuju kantor kepala desa. Jarak dari rumah ke kantor kepala desa lumayan juga, sekitar 1,5 kilometer.
Di kantor kepala desa, kami disambut langsung oleh kepala desa Dukuh dan aparat desa yang lain. Kami berkumpul di aula balai desa, dan mendengarkan sambutan dari bapak kepala desa dan Prof. Efa selaku DPL kami.
kantor kepala desa Dukuh
aula balai desa Dukuh
bapak kepala desa dan jajaran serta Prof. Efa
wajah-wajah-lelah-gak-tau-lagi-bentuknya-kayak-apa
Seperti keterangan yang kami dapat dari berbagai sumber, desa Dukuh sangat panas! Bahkan saat mendung. Cuaca khas kawasan yang dekat dengan pantai. Aku sangat mudah berkeringat disini. Tidak sampai 5 menit setelah mandi, aku sudah dapat merasakan keringatku mulai keluar.
Hari pertama disini, kami habiskan dengan membersihkan rumah; menyapu, mengepel, memasang tambang jemuran, memasang spanduk KKNM kelompok kami di depan rumah, membereskan koper masing-masing dan istirahat. Tidak lupa kami menyapa tetangga di sekitar rumah dan anak-anak yang bermain disana.
Malam harinya, kami semua berkumpul di ruang belakang untuk briefing. Ada beberapa hal yang dibahas dalam briefing terkait rencana program apa yang akan kami lakukan disini dan juga bagaimana kami harus bersikap selama tinggal di rumah ini dengan masyarakat sekitar rumah. Setelah briefing selesai, teman-teman sie. Konsumsi menyiapkan makan malam, nasi goreng. Dan malam ini, kami mengistirahatkan badan kami yang lelah dan bersiap untuk esok hari yang mungkin akan melelahkan juga.
Ya Allah, jadikanlah seluruh kegiatan kami selama satu bulan ini sebagai ibadah kami kepadaMu..
Dukuh, 20 Juli 2016
yuk, lanjut ke hari #2, disini :)

No comments:
Post a Comment