Thursday, 1 September 2016

KKNM UNPAD DAY #4

DAY #4!

Tebak kemana kami pergi hari ini?
Pada hari keempat yang cerah ini (well…panas kali ya bukan cerah lagi) kami pergi dusun Dukuh Timur.

Sehari sebelumnya, di Posyandu dekat Balai Desa…

“Neng, besok ada Posyandu lagi ya di Dukuh Timur. Tapi agak jauh jalannya. Kalo mau, besok janjian aja ya jam 8 di pertigaan yang ada plang penunjuk arah itu.”
“Iya, Ibu. Besok InsyaAllah bisa.”
“Oke, jam 8 ya neng”
“Iya, Ibu”

***

Pagi ini, kami semua sudah rapi. Semua yang aku maksud disini benar-benar semua mahasiswa KKNM Unpad. Kami semua sepakat untuk pergi karena ingin mengunjungi dusun Dukuh Timur dan ke Jembatan Asa (Jembatan yang dibangun oleh salah satu stasiun televisi untuk desa Dukuh).

Pukul 07.45 kami sudah mulai jalan menuju pertigaan yang dimaksud oleh bu bidan pada hari sebelumnya. Pertigaan yang dimaksud kebetulan dekat dengan rumah yang kami sewa, jadi tidak butuh waktu lama untuk sampai kesana.

Tiba di pertigaan…
“Oh, ke arah sana ternyata. Jauh nggak ya?”
“Kemarin sih bu bidannya bilang jalannya lumayan hehe”
“Wah iya? Panas lagi ya..hmm”
“Nggak apa-apa lah kan rame-rame kita”

Beberapa saat kami menunggu (padahal baru 5 menit). 

“Kok bu bidannya belum datang ya? Jam 8 kan?”
“Iya, kemarin juga bilangnya jam 8”
“Sms dong, Mal. Atau telepon.”

Akhirnya aku memutuskan untuk mengirim sms ke bu bidan, menanyakan keberadaan beliau dan memberitahukan bahwa kami semua telah tiba di tempat yang ditentukan.

Tidak ada balasan (setelah 5 menit)
“Mungkin bu bidannya lagi di jalan naik motor jadi nggak bisa liat hp”

Sambil menunggu, sempat-sempatnya kami berfoto disana.




Beberapa menit kemudian, bu bidan akhirnya tiba dan berhenti tepat di tempat kami menunggu.

“wah rame ya, ibu cuma sendirian, nggak apa-apa jalan kaki kesana?”

“Iya bu, nggak apa-apa”

“yaudah, jalannya kearah sana, ikutin aja jalan ini nanti posyandunya ada di sebelah kiri”

“iya bu”

“kalo gitu ibu duluan ya, ketemu di posyandu”

“iya bu”

Kami semua mulai jalan. Ternyata memang lumayan, sampai posyandu aku bisa merasakan bagian punggung kemejaku basah di balik jas almamater. Padahal belum jam 9 pagi.

Posyandu yang ini sedikit lebih besar dibandingkan dengan posyandu yang ada di dusun Dukuh Barat atau posyandu yang dekat dengan Balai Desa. Di sekelilingnya juga terdapat banyak penjual makanan, mulai dari warung-warung biasa, roti bakar, cilok, sampai mie ayam pun ada.

Seperti kemarin, kami melakukan hal yang sama di posyandu. Membantu ibu-ibu kader dan bu bidan dalam melayani ibu-ibu dan anak-anak mereka yang datang. Sedikit lebih hectic, karena pengunjung posyandu disini memang lebih banyak dibandingkan dengan dua posyandu sebelumnya.



dedenya anteng ditimbang

bantuin pembukuan (lagi)

bu bidan dan ibu-ibu kader desa Dukuh


Setelah selesai di posyandu..
“Abis ini mau pada kemana?”
“Mau ke jembatan Asa, Bu.”
“Oh, ma lewat mana? Sini aja atuh nanti lewat alfa terus masuk gang ke jembatan Asa.” (bu bidan menunjukkan jalan searah dengan jalan yang kami lewati saat berangkat tadi)
“Kalau lewat jalan yang ini lurus terus bisa juga nggak, Bu?” (tanya salah satu dari kami sambil menunjuk arah yang berlawanan)
“Bisa juga sih tapi jauh kalo kesana mah”
“Nggak apa-apa, Bu. Kami lewat sini aja mau sekalian jalan-jalan hehe”
“Ya udah atuh, hati-hati ya. Makasih udah bantu-bantu disini”
“Iya ibu, sama-sama. Kami permisi ya bu, Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”

Baikalah, ayo kita berangkat~

Jalan yang kami ambil ternyata benar-benar jauh. Kami melewati pemukiman warga yang lumayan luas, dan akhirnya jalan ini membawa kami ke daerah persawahan yang sangat luas. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya sawah. I do mean it. Sawah disini sangat luas. Kami berjalan di jalan yang tidak terlalu besar, berbatu, berdebu, kiri-kanannya langsung sawah, dan…..panas. Hanya ada beberapa pohon di sepanjang jalan.

sawah

sawah lagi..

dan sawah...



As always~ setiap ada kesempatan, foto! Haha



Di tengah terik matahari ini, kami terus melanjutkan perjalanan. Masih jauh ternyata teman-teman~
Beberapa ratus meter (atau mungkin hampir 1 kilometer) dari tempat kami berfoto, kami menemukan kandang ayam yang besar. Terlihat juga pemilik kandang tersebut disana. Penasaran, kami menuju kesana. Tiga orang temanku yang dari Fakultas Peternakan berjalan paling depan. Ayam yang dipelihara disana adalah ayam broiler, namun baru berusia beberapa hari. Terdapat dua buah kandang disana. Satu kandang dapat menampung hingga 5000 ekor ayam. Kami diperbolehkan oleh pemiliknya untuk melihat ayam-ayam yang ada di dalam kandang. Begitu memasuki kandang, suhu berubah menjadi lebih hangat. Seluruh lantai kandang ditaburi sekam padi yang lumayan tebal (katanya agar anak-anak ayam gemay ini tidak kedinginan saat malam dan menjelang pagi). Anak-anak ayamnya tidak dibiarkan lepas begitu saja. Ada 5 area yang terpisahkan oleh sekat dari seng dan triplek untuk anak-anak ayam ini, masing-masing area diisi oleh 1000 ekor anak ayam. Tepat diatas area ayam juga tergantung beberapa lampu (fungsinya untuk menghangatkan ayam-ayam ini juga sepanjang malam). Di dalam setiap area ayam juga terdapat banyak tempat pakan dan minum untuk anak-anak ayam ini yang tidak pernah kosong.




Puas melihat-lihat ayam, kami melanjutkan perjalanan menuju jembatan Asa.
“Masih jauh nggak sih? Kok perasaan lama banget ya sampenya?”
“Nggak tau juga nih. Ada yang tau seberapa jauh lagi?”
“Dari kita belum ada yang pernah kesini jadi mana tau haha”
“Iya juga….”
“Ayolah semangat. Kan bareng-bareng.”

Baiklah kami terus berjalan. Beberapa ratus meter (mungkin sekitar 300 atau 400 meter dari kandang ayam), kami kembali memasuki daerah pemukiman dan kami menemukan sebuah warung. Alhamdulillah bisa beli minum…. Kami semua istirahat sejenak disana sambil menghabiskan minuman yang kami beli. Saat sedang menikmati minuman…
“Eh. Rina, Hanna sama Hayati nggak beli minum?”
“Lagi shaum..”
“Subhanallah… semoga jadi ladang pahala ya jalan sejauh itu, terus disini kita pada minum..”
“Nggak apa-apa kok hehehe”
“Iya nggak apa-apa kok santai aja hehe”

Saatnya kembali melanjutkan perjalanan. Kami masih berada di daerah pemukiman, namun rumah-rumahnya semakin jarang. Aku lupa berapa jauh kami berjalan. Tapi lumayan lama. Akhirnya apa yang menjadi tujuan kami terlihat, Jembatan Asa!
“Ooh, ini jembatan Asa itu?”
“Kayak jembatan gantung ya modelnya?”
“Emang mau gimana modelnya?”
“Yaaa gimana gitu lah hahaha”
“Yuk foto-foto dulu disini. Udah jauh-jauh jalan nggak foto kan sayang”
“Kuy lah kuy. Ambil posisi dulu”
“Yah, nggak bawa tripod… aku fotoin dulu deh”
“Sini sini, gantian aku yang fotoin sekarang”




Alhamdulillah. Sekarang saatnya pulang ke rumah kontrakan. Dalam perjalanan ke rumah, kami melewati sebuah minimarket yang sudah tidak asing lagi bagi kami.
“Loh? Ternyata tembusnya ke jalan ini guys”
“Hahaha iya. Ternyata kesini juga ya. Berarti tadi kita muterin desa Dukuh dong?”
“Emang. Hahaha”
“Gapapa~ worth it lah jalan bareng kalian hahaha”

Begitulah hari yang panjang ini. Alhamdulillah. Satu hari lagi telah terlewati. Entah apa lagi yang akan terjadi di hari-hari selanjutnya. Semoga selalu yang terbaik, aamiin.




Dukuh, 23 Juli 2016

No comments:

Post a Comment