Dia terlihat biasa
saja. Tetap bersekolah layaknya anak sekolah seusianya. Masih terlihat
baik-baik saja seperti 4 tahun lalu ketika aku berpamitan. Dia terlihat kuat. Tetap
membanggakan orang tua dengan prestasinya di sekolah. Dia masih terlihat sama. Aku
berusaha menerka apakah dia masih usil pada kami sepupu-sepupunya seperti dulu.
Terutama padaku karena aku lah yang dia kenal lebih lama-aku cucu pertama di
keluarga ayah, dia kedua. Kami terpaut usia 4 tahun. 6 tahun setelahnya,
barulah lahir cucu ketiga di keluarga ayah-. Seperti potongan film yang diputar
ulang, ingatanku kembali ke masa kanak-kanak kami. Saat itu, tahun 2006, kami
sekeluarga sudah pindah ke Aceh. Dan saat itu, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan sepupuku ini. Ekspektasiku
sebagai seorang anak usia 10 tahun ketika pertama kali bertemu dengan sepupunya
yang baru berusia 6 tahun saat itu, sangat tipikal. Aku kira dia adalah anak
yang baik, pendiam, penurut dan tidak banyak tingkah. Nyatanya? Dia seperti
tidak pernah kehabisan ide untuk mengusiliku. Tidak hanya aku, sepupu-sepupu
kami yang lain (cucu dari adik-adik kakek kami), bahkan Mamaku, Tante dan Om
juga pernah menjadi korbannya. Ya, begitulah dia. Sepupuku yang paling usil.
Dia hanya
terhilat lebih tinggi sekarang. Tingginya hampir setara denganku. Wajahnya tidak
banyak berubah. Masih terlihat usil seperti dulu. Kali ini aku tidak lama
bertemu dengannya, karena dia dan ayahnya harus segera kembali ke Jakarta untuk
beberapa hari, dan setelah itu langsung pulang ke Aceh. Waktunya hanya sedikit
untuk jalan-jalan di Bandung. Sayang sekali aku sedang tidak libur kuliah, jadi
aku hanya sempat bertemu dengannya selama beberapa menit-mereka mampir ke
Jatinangor dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta-. Tadi aku bilang mampir,
maksudnya benar-benar mampir. Tidak sampai 10 menit mereka disini, lalu pergi
lagi. Ayahku juga ikut. Tipikal orang-orang yang tidak suka menyia-nyiakan
waktu.
Beberapa hari
kemudian, aku mendapat telpon dari Ayah. Disini Ayah menceritakan semuanya. Keadaan
sepupuku itu yang sebenarnya. Aku terkejut. Aku benar-benar terkejut. Aku tahu
dulu dia pernah sakit. Tapi aku kira sakitnya itu sudah sembuh karena dia sudah
menjalani pengobatan hingga dioperasi di Malaysia, dan setelah itu dia tidak
mengalami keluhan apapun sama sekali. Kali ini aku benar-benar terkejut
mendengar cerita Ayah. Aku menangis tanpa suara di telepon. “Mala kalau chating
atau sms dia jangan dibawa sedih ya, Nak. Biasa aja, anggap aja kayak kalau dia
itu nggak sakit. Dia nggak suka, Nak. Waktu dia sama wak Zul masih nginap di
rumah, wak Zul cerita sama Ayah. Dia nggak pernah mau ngomong kalo di telepon
ditanya-tanya tentang sakitnya dia. Dia memang keliatan nggak sakit, Nak. Kayak
pas kami ke mampir ke tempat Mala pun dia nggak keliatan sakit kan, Nak?“. Aku terdiam.
Lumayan lama. “Iya, Yah..“ Hanya itu kalimat yang mampu aku keluarkan.
Yaa Allah...
sembuhkanlah dia...
No comments:
Post a Comment