Tuesday, 7 April 2015

Yaa Allah.. Sembuhkanlah Dia

          Dia terlihat biasa saja. Tetap bersekolah layaknya anak sekolah seusianya. Masih terlihat baik-baik saja seperti 4 tahun lalu ketika aku berpamitan. Dia terlihat kuat. Tetap membanggakan orang tua dengan prestasinya di sekolah. Dia masih terlihat sama. Aku berusaha menerka apakah dia masih usil pada kami sepupu-sepupunya seperti dulu. Terutama padaku karena aku lah yang dia kenal lebih lama-aku cucu pertama di keluarga ayah, dia kedua. Kami terpaut usia 4 tahun. 6 tahun setelahnya, barulah lahir cucu ketiga di keluarga ayah-. Seperti potongan film yang diputar ulang, ingatanku kembali ke masa kanak-kanak kami. Saat itu, tahun 2006, kami sekeluarga sudah pindah ke Aceh. Dan saat itu, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan sepupuku ini. Ekspektasiku sebagai seorang anak usia 10 tahun ketika pertama kali bertemu dengan sepupunya yang baru berusia 6 tahun saat itu, sangat tipikal. Aku kira dia adalah anak yang baik, pendiam, penurut dan tidak banyak tingkah. Nyatanya? Dia seperti tidak pernah kehabisan ide untuk mengusiliku. Tidak hanya aku, sepupu-sepupu kami yang lain (cucu dari adik-adik kakek kami), bahkan Mamaku, Tante dan Om juga pernah menjadi korbannya. Ya, begitulah dia. Sepupuku yang paling usil.
          Dia hanya terhilat lebih tinggi sekarang. Tingginya hampir setara denganku. Wajahnya tidak banyak berubah. Masih terlihat usil seperti dulu. Kali ini aku tidak lama bertemu dengannya, karena dia dan ayahnya harus segera kembali ke Jakarta untuk beberapa hari, dan setelah itu langsung pulang ke Aceh. Waktunya hanya sedikit untuk jalan-jalan di Bandung. Sayang sekali aku sedang tidak libur kuliah, jadi aku hanya sempat bertemu dengannya selama beberapa menit-mereka mampir ke Jatinangor dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta-. Tadi aku bilang mampir, maksudnya benar-benar mampir. Tidak sampai 10 menit mereka disini, lalu pergi lagi. Ayahku juga ikut. Tipikal orang-orang yang tidak suka menyia-nyiakan waktu.
          Beberapa hari kemudian, aku mendapat telpon dari Ayah. Disini Ayah menceritakan semuanya. Keadaan sepupuku itu yang sebenarnya. Aku terkejut. Aku benar-benar terkejut. Aku tahu dulu dia pernah sakit. Tapi aku kira sakitnya itu sudah sembuh karena dia sudah menjalani pengobatan hingga dioperasi di Malaysia, dan setelah itu dia tidak mengalami keluhan apapun sama sekali. Kali ini aku benar-benar terkejut mendengar cerita Ayah. Aku menangis tanpa suara di telepon. “Mala kalau chating atau sms dia jangan dibawa sedih ya, Nak. Biasa aja, anggap aja kayak kalau dia itu nggak sakit. Dia nggak suka, Nak. Waktu dia sama wak Zul masih nginap di rumah, wak Zul cerita sama Ayah. Dia nggak pernah mau ngomong kalo di telepon ditanya-tanya tentang sakitnya dia. Dia memang keliatan nggak sakit, Nak. Kayak pas kami ke mampir ke tempat Mala pun dia nggak keliatan sakit kan, Nak?“. Aku terdiam. Lumayan lama. “Iya, Yah..“ Hanya itu kalimat yang mampu aku keluarkan.

Yaa Allah... sembuhkanlah dia...

No comments:

Post a Comment