Aku rasa aku telah salah memutuskan untuk bicara padanya
Aku rasa aku telah salah memutuskan untuk mencoba bercerita padanya
Aku rasa aku telah salah memutuskan untuk benar-benar bercerita padanya
Aku rasa aku telah salah untuk mempercayainya
Ini adalah salah satu kelemahanku yang paling aku sesali hingga kini. Inilah kebodohanku yang paling aku sesali hingga kini. Inilah kesalahan fatal yang pernah aku lakukan (menurutku). Mungkin aku memang terkesan tertutup, tapi tidak begitu terhadap orang yang aku percayai. Ya, pada orang yang aku percayai.
Aku belum pernah semenyesal ini selama hidupku. Aku belum pernah merasa sebodoh ini. Aku belum pernah merasa sekecewa ini pada diriku sendiri. Bahkan ketika nilai fisika dan matematika menjadi penghancur utama nilai rata-rata UNku. Atau ketika semua fasilitasku disita oleh Mamah dan Ayah selama 6 bulan karena nilai raporku anjlok. Aku belum pernah sekesal ini pada diriku sendiri.
Aku tahu ini salahku. Sepenuhnya salahku. Salahku yang tidak memfilter. Bukan tidak memfilter, maksudku kurang memfilter karena aku melihat dia sangat baik. Oke, aku akui ini bias terbesar. Dan kini aku menyesali bagaimana aku bisa sepercaya itu padanya dan menceritakan semuanya. Aku sungguh menyesal.
Ketika aku telah mempercayai seseorang, aku sungguh berharap bahwa orang itu mampu dan akan terus menyimpan setiap detail kata yang aku ceritakan padanya. Dan ketika aku bilang semuanya, itu artinya benar-benar semuanya. Tidak peduli apakah jika dia menceritakan pada orang lain dengan menyamarkan namaku, itu artinya dia sudah melanggar janjinya padaku, dan aku sangat tidak suka dengan sikap yang seperti itu. Tidak peduli apakah dia hanya menceritakannya kepada teman baiknya yang lain yang menurutnya pandai menyimpan rahasia, tapi tetap saja dia telah melanggar janjinya padaku. Tidak peduli dengan alasan apaun dia menceritakan semua itu sebagai contoh, aku tetap tidak suka. Ya, aku kesal. Ya, aku marah. Tapi jauh dari itu, aku sedih. Benar-benar sedih. Ketika ada orang yang menceritakan kepada orang lain tentang apa yang telah aku ceritakan kepadanya, terlebih jika itu adalah tentang aku sendiri, aku merasa bahwa orang itu menganggap ceritaku tidak lebih sebagai sebuah lelucon yang pantas jika diceritakan kepada orang-orang. Aku tidak suka. Aku sedih. Aku sangat sedih mengetahuinya. Aku menangis 3 hari. Terlebih lagi aku mengetahui ini dengan mata dan telingaku sendiri.
Ucapan orang tua memang tidak pernah meleset. “Tempat curhat paling aman itu Allah, Nak. Semuanya boleh Mala curhatin ke Allah. Aman. Nggak akan bocor kemana-mana. Nggak ada PHPnya, karena Allah pasti ngasih petunjuk“. Suatu hari, Mamah pernah berkata seperti itu. Dan perkataan Mamah tidak salah sama sekali. Kini aku justru sangat menyesal telah menceritakan hal itu selain kepada Allah…
Aku rasa ini salah satu bentuk teguran Allah kepadaku untuk terus mengingat-Nya. Untuk terus menomorsatukan-Nya. Untuk terus menggantungkan semua hanya pada-Nya. Untuk selalu menyebut nama-Nya. bagaimanapun keadaanku, entahlah itu senang, sedih, stress, Allah ingin agar hanya Allah lah yang ada dalam hati dan pikiranku. Agar aku hanya meminta solusi pada-Nya, bukan pada orang lain.
Aku rasa benar, Allah telah menegurku…
Padahal aku punya Allah, tapi mengapa aku ceritakan juga pada yang lain?
Padahal aku punya Allah, tapi mengapa aku justru menangis dihadapan makhluknya?
Padahal aku punya Allah.. aku punya Allah…
Astaghfirullah..
Astaghfirullah…
Astaghfirullah… :’(
Aku rasa aku telah salah memutuskan untuk mencoba bercerita padanya
Aku rasa aku telah salah memutuskan untuk benar-benar bercerita padanya
Aku rasa aku telah salah untuk mempercayainya
Ini adalah salah satu kelemahanku yang paling aku sesali hingga kini. Inilah kebodohanku yang paling aku sesali hingga kini. Inilah kesalahan fatal yang pernah aku lakukan (menurutku). Mungkin aku memang terkesan tertutup, tapi tidak begitu terhadap orang yang aku percayai. Ya, pada orang yang aku percayai.
Aku belum pernah semenyesal ini selama hidupku. Aku belum pernah merasa sebodoh ini. Aku belum pernah merasa sekecewa ini pada diriku sendiri. Bahkan ketika nilai fisika dan matematika menjadi penghancur utama nilai rata-rata UNku. Atau ketika semua fasilitasku disita oleh Mamah dan Ayah selama 6 bulan karena nilai raporku anjlok. Aku belum pernah sekesal ini pada diriku sendiri.
Aku tahu ini salahku. Sepenuhnya salahku. Salahku yang tidak memfilter. Bukan tidak memfilter, maksudku kurang memfilter karena aku melihat dia sangat baik. Oke, aku akui ini bias terbesar. Dan kini aku menyesali bagaimana aku bisa sepercaya itu padanya dan menceritakan semuanya. Aku sungguh menyesal.
Ketika aku telah mempercayai seseorang, aku sungguh berharap bahwa orang itu mampu dan akan terus menyimpan setiap detail kata yang aku ceritakan padanya. Dan ketika aku bilang semuanya, itu artinya benar-benar semuanya. Tidak peduli apakah jika dia menceritakan pada orang lain dengan menyamarkan namaku, itu artinya dia sudah melanggar janjinya padaku, dan aku sangat tidak suka dengan sikap yang seperti itu. Tidak peduli apakah dia hanya menceritakannya kepada teman baiknya yang lain yang menurutnya pandai menyimpan rahasia, tapi tetap saja dia telah melanggar janjinya padaku. Tidak peduli dengan alasan apaun dia menceritakan semua itu sebagai contoh, aku tetap tidak suka. Ya, aku kesal. Ya, aku marah. Tapi jauh dari itu, aku sedih. Benar-benar sedih. Ketika ada orang yang menceritakan kepada orang lain tentang apa yang telah aku ceritakan kepadanya, terlebih jika itu adalah tentang aku sendiri, aku merasa bahwa orang itu menganggap ceritaku tidak lebih sebagai sebuah lelucon yang pantas jika diceritakan kepada orang-orang. Aku tidak suka. Aku sedih. Aku sangat sedih mengetahuinya. Aku menangis 3 hari. Terlebih lagi aku mengetahui ini dengan mata dan telingaku sendiri.
Ucapan orang tua memang tidak pernah meleset. “Tempat curhat paling aman itu Allah, Nak. Semuanya boleh Mala curhatin ke Allah. Aman. Nggak akan bocor kemana-mana. Nggak ada PHPnya, karena Allah pasti ngasih petunjuk“. Suatu hari, Mamah pernah berkata seperti itu. Dan perkataan Mamah tidak salah sama sekali. Kini aku justru sangat menyesal telah menceritakan hal itu selain kepada Allah…
Aku rasa ini salah satu bentuk teguran Allah kepadaku untuk terus mengingat-Nya. Untuk terus menomorsatukan-Nya. Untuk terus menggantungkan semua hanya pada-Nya. Untuk selalu menyebut nama-Nya. bagaimanapun keadaanku, entahlah itu senang, sedih, stress, Allah ingin agar hanya Allah lah yang ada dalam hati dan pikiranku. Agar aku hanya meminta solusi pada-Nya, bukan pada orang lain.
Aku rasa benar, Allah telah menegurku…
Padahal aku punya Allah, tapi mengapa aku ceritakan juga pada yang lain?
Padahal aku punya Allah, tapi mengapa aku justru menangis dihadapan makhluknya?
Padahal aku punya Allah.. aku punya Allah…
Astaghfirullah..
Astaghfirullah…
Astaghfirullah… :’(
No comments:
Post a Comment