Saturday, 10 January 2015

Matahari Jingga









Angin yang berhembus memainkan ujung kerudung biru yang dikenakannya. Disinilah ia saat ini, di tepi pantai yang sangat dirindukannya. Sejenak ingatannya melayang ke beberapa tahun silam, saat segalanya bagai cerita di negeri dongeng.

Tidak bisa dipungkiri maksud hatinya. Tidak bisa disangkal lagi apa yang dirasakannya. Semua bagai mimpi. Ya, segalanya muncul dan hilang tak terduga. Segalanya seperti sihir. Seperti dikendalikan entah oleh siapa dan dengan menggunakan apa.

Apa yang kau lakukan di sini? tidak bisakah kau bergerak mengejar apa itu yang menjadi mimpimu? Bukan. Bukan ia yang tidak ingin bergerak. Bukan ia yang tidak mampu bergerak. Bukan juga ia yang inginkan ini semua.

Sang surya telah menampakkan warna jingga yang temaram dihadapannya. Ia masih tidak bergeming. sudah berapa lama dia duduk di atas batu karang itu? Yang ia ingat, sejak tadi dia ditemani oleh sinar mentari yang cerah, langit biru dan awan putih yang indah, burung-burung beterbangan dengan anggun, dan desiran ombak yang seolah mengerti kesunyian hati yang coba ia tutupi.

Ia memang menunggu senja. Melihat warna jingga yang dipancarkan sang surya dengan anggunnya. Dalam diamnya dia berpikir. Dalam diamnya ia mengenang. Dalam diamnya ia menangis...

Tidak ada yang bisa melihatnya menangis disini. Tidak ada. Mentari jingga yang menemaninya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Mentari jingga itu hanya bertahan sementara, sebelum akhirnya warna jingga berubah biru gelap dan akhirnya hitam. Sebelum akhirnya kehadiran sang surya digantikan oleh purnama, langkah kaki itu telah bergerak menjauh. Meninggalkan segalanya dibelakang. Membiarkan deburan ombak menghapus segalanya. Dan berharap semoga masih ada waktu untuknya bertemu lagi dengan sang surya jingga..

No comments:

Post a Comment